in , ,

Wow, Banyak Suara Pendukung Prabowo-Sandi Lari ke Jokowi-Ma’ruf, Ada Apa Ini?

Jokowi & KH. Ma'ruf Amin, foto: merdeka.com

Dalam sebuah kontestasi politik, dukungan kader umumnya akan selaras dengan sikap partai politiknya. Sebab parpol pada dasarnya dibentuk untuk mengagregasi kepentingan masyarakat sehingga terartikulasi dengan baik dalam kebijakan politik.

Namun, realitasnya lebih luas dari itu. Tak selamanya arah dukungan kader dan simpatisan seirama dengan partai politiknya. Fenomena ini disebut dengan istilah, ‘split-ticket voting atau dukungan pemilih yang tak sejalan dengan partai pilihannya’.

Split-ticket voting lahir akibat adanya bermacam-macam pemilihan langsung, seperti pemilihan legislatif (DPR) maupun eksekutif (presiden). Tidak hanya di Indonesia, fenomena split-ticket voting terjadi juga di negara lain yang menyelenggarakan pemilihan langsung.

Bahkan di Amerika Serikat dan Eropa, kajian split-ticket voting sudah cukup lama dan karena itu telah terbangun sejumlah teori dominan. Sementara, di Indonesia, fenomena ini tampak semenjak pemberlakuan pemilihan presiden secara langsung di tahun 2004.

Pada Pilpres 2019 ini, kasus ‘split-ticket voting’ ini kemungkinan besar akan terjadi lagi. Hal ini sesuai hasil sigi dari lembaga survei Indikator Politik terbaru.

Menurut hasil survei Indikator Politik, ada split-ticket voting atau dukungan pemilih yang tak sejalan dengan partai pilihannya di koalisi Prabowo – Sandiaga. Basis koalisi capres-cawapres nomor urut 02 itu sedikit lebih besar yang keluar dari arah dukungan partainya, sekitar 28,2 persen.

Dari data Indikator, untuk Partai Gerindra, masih ada 14,1 persen pemilih yang terbelah mendukung capres petahana. Sedangkan 81,5 persen searah dengan dukungan partai.

Adapun, untuk Partai Keadilan Sejahtera, sebanyak 73,7 persen memilih Prabowo dan 21,1 persen mendukung Jokowi. Sedangkan dari Partai Amanat Nasional, sebanyak 71,9 persen searah dengan dukungan partai ke Prabowo dan 26 persennya mendukung Jokowi.

Partai pendukung Prabowo dengan pemilih terpecah paling besar ada di Partai Demokrat dan Partai Berkarya. Sigi Indikator merekam sebanyak 54,1 persen pemilih Demokrat mendukung Prabowo dan 40,5 persen ke arah Jokowi.

Sedangkan di Partai Berkarya sebanyak 44,8 persen pemilihnya mendukung Prabowo dan 42,1 persen lainnya memilih Jokowi.

Untuk kategori wilayah, suara untuk Prabowo-Sandi lebih banyak terbelah di Jawa Tengah dan DIY serta Jawa Timur. Sedangkan kubu Jokowi-Ma’ruf lebih banyak terbelah di Jawa bagian barat serta wilayah Sumatera.

Survei Indikator Politik ini dilakukan pada 16-26 Desember 2018. Metode samplingnya menggunakan multistage random sampling dengan 1.220 responden. Pengumpulan data menggunakan wawancara tatap muka. Adapun tingkat margin of error penelitian ini kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Terbelahnya suara Prabowo-Sandi di atas bukanlah suatu kebetulan belaka. Faktor posisi strategis yang hanya didominasi oleh Gerindra adalah utamanya. Hal ini membuat distribusi power tidak merata.

Di sisi lain, pandangan rasional dari pemilih adalah pendorong adanya split-ticket voting. Dalam kasus ini, para kader dan pemilih partai oposisi melihat adanya kemajuan yang telah dikerjakan oleh Jokowi.

Oleh karenanya, secara logis dan rasional mereka lebih condong memilih Jokowi-Ma’ruf Amin dibandingkan harus mendukung sikap partai politiknya.

Melalui fenomena tersebut, diakui atau tidak, suara ke Jokowi lebih mengalir. Kubu petahana itu menampung pecahan suara dari para pendukung partai oposisi. Inilah yang akan turut mengerek suara pasangan capres-cawapres nomor urut 01 itu.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments