in

Wajah Pertanian Kita Hari Ini, Antara Narasi Ironi vs Optimisme

Setiap menjelang pemilu, publik Indonesia selalu dijejali oleh narasi ‘ironi negari agraris’ oleh elit-elit yang sedang berebut kuasa. Narasi ini diulang-ulang dari pemilu ke pemilu, dan isinya selalu sama.

Kurang lebih, narasi tersebut dibangun dari kondisi yang seakan-akan negara kita selalu lemah di bidang pertanian, meskipun masih berstatus sebagai negeri agraris.

Entah sejak kapan narasi ini muncul, dan akan berakhir hingga kapan akan terus dibawakan. Namun kita bisa menandai bahwa narasi itu selalu berisi mengenai ‘kekalahan’, ‘ketakutan’, ‘pesimis’, dan adanya rencana ‘bangkit’ di masa depan. Lengkap dengan janji-janjinya.

Prabowo Subiyanto, misalnya. Dalam sebuah pidato di Jakarta, Ketua Umum Gerindra sekaligus calon presiden itu mengaku prihatin dengan kondisi pertanian Indonesia hari ini. Katanya, meski Indonesia negara agraris, faktanya banyak bahan pangan yang masih impor.

Meski tanpa tawaran kebijakan yang spesifik, Ia pun berjanji akan menyetop impor apapun bila terpilih nanti, termasuk bahan pangan. Dan, akan mulai mengekspor produk pertanian Indonesia. Ini akan menjadi bukti ketahanan dan kedaulatan Indonesia di bidang pertanian, katanya.

Namun, kita seharusnya patut bertanya, benarkah kondisi pertanian kita dari tahun ke tahun selalu miris dan ironis? Tak adakah kemajuan barang sedikitpun dari kondisi hari ini?

Inflasi Harga Pangan, Ekspor Pertanian, dan Kemiskinan di Pedesaan

Untuk menjawab narasi ‘ironi negeri agraris’ tersebut, kita perlu membaca data pertanian sebagai kompasnya. Tak perlu lagi kita percaya ‘klaim’, yang kadang hanya berisi omongan kosong.

Melihat data resmi pertanian, baik dari Badan Pusat Statistik atau Pusat Data Pertanian dari Kementerian Pertanian, sebenarnya kondisi pertanian Indonesia tak buruk-buruk amat. Bahkan, menunjukkan adanya tren perkembangan yang positif dan signifikan dalam 4 tahun ini.

Hal itu, misalnya, terlihat dari data mengenai peningkatan nilai ekspor.  Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada kurun waktu 2014 — 2017, volume ekspor produk pertanian meningkat 4,8 persen per tahun. Temuan BPS ini juga dibenarkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementerian Pertanian.

Pada 2017, volume ekspor mencapai 41 juta ton, meningkat dibandingkan pada 2014 yang mencapai 36 juta ton. Tren positif ini akan kembali berlanjut pada tahun ini, sebab hingga September 2018, volume ekspor produksi pertanian sudah mencapai angka 31 juta ton.

Tidak hanya dalam bentuk volume, nilai ekspor produk pertanian juga terus meningkat dengan kenaikan 2,2 persen per tahun. Pada tahun 2014 lalu, nilai ekspor produksi pertanian Rp 446,9 triliiun dan meningkat pada 2017 menjadi Rp 475,9 triliun. Bahkan bila dibandingkan 2016, nilai ekspor produksi pertanian Indonesia pada 2017 meningkat sebesar 24 persen.

Peningkatan volume dan nilai ekspor tersebut juga selaras dengan meningkatnya kontribusi hasil pertanian pada PDB. Nilai PDB Sektor pertanian tahun 2017 mencapai Rp. 1.344 triliun yang berarti naik Rp. 350 triliun dari tahun 2013 yang hanya Rp. 994,78 triliun.

Dengan angka tersebut, maka akumulasi Peningkatan PDB Sektor Pertanian antara tahun 2013-2017 mencapai Rp. 906,1 T.

Kemudian, melirik data BPS kembali, inflasi bahan makanan juga telah terkendali dengan baik. Cirinya ditandai dengan adanya inflasi yang rendah. Bila dibandingkan tahun 2013 lalu, inflasi tahunan pada akhir tahun 2017 tercatat telah turun secara signifikan, yakni mencapai hingga 88,9%.

Pada tahun 2017 inflasi tercatat 1,36%, sedangkan lima tahun lalu mencapai 11,35%. Ini tentu capaian yang luar biasa dalam kurun waktu 5 tahun belakangan. Pada tahun yang sama, inflasi harga makanan tersebut berperan besar pada penurunan inflasi secara nasional. Sebab, angka inflasi bahan pangan itu lebih rendah dari inflasi umum.

Hal tersebut juga secara bersamaa korelatif dengan tingkat kemiskinan di pedesaan sebagai basis utama pertanian di Indonesia. Terbukti dengan menurunnya jumlah penduduk miskin perdesaan dari 17,74 juta jiwa pada Maret 2013 menjadi sebanyak 15,81 juta jiwa. pada Maret 2018. Dibandingkan tahun 2013 lalu, angka itu telah turun sebanyak 10,88%.

Beberapa indikator di atas, bila dibaca dari sisi ekonomi politik pedesaan dan pertanian ternyata saling terkait. Peningkatan volume dan nilai ekspor yang menandakan peningkatan produksi pertanian, sedangkan inflasi yang turun menunjukkan semakin terjangkaunya harga pangan karena lonjakan harga diantisipasi pemerintah, berdampak pada menurunnya angka kemiskinan di pedesaan.

Kebijakan Pemerintahan Presiden Jokowi di Bidang Pertanian

Indonesia juga tercatat terus mengalami surplus dalam perdagangan produk pertanian setiap tahunnya. Sebagai contoh pada 2017, Indonesia mengalami surplus perdagangan produksi pertanian sebesar Rp 228,6 triliun, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2016 yang mencapai Rp 118,5 triliun.

Meningkatnya volume, nilai, serta surplus perdagangan produksi pertanian Indonesia tersebut merupakan cerminan upaya dan kerja keras yang telah dan sedang dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi, khususnya Kementerian Pertanian (Kementan).

Kementerian Pertanian di bawah arahan Presiden Jokowi berupaya meningkatkan produksi pertanian untuk mendorong ekspor. Orientasi ekspor ini telah menuntun sejumlah kebijakan lain dari kerja Kementerian Pertanian.

“Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, kami harus bisa memanfaatkan momentum di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Akselerasi ekspor akan sangat menguntungkan bagi petani dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Kariyasa, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementerian Pertanian.

Selain mendorong peningkatan produksi, baru-baru ini Kementan juga mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kemudahan perizinan ekspor. Pengurusan izin yang tadinya memerlukan waktu pengurusan sampai 312 jam, sekarang hanya tinggal menjadi 3 jam.

“Langkah strategis ini diharapkan dapat memberikan semangat baru bagi para eksportir untuk memacu eskpor produk pertanian ke depan,” ujar Kariyasa.

Epilog

Melihat pemaparan kondisi pertanian Indonesia hari ini, kita setidaknya memiliki harapan dan optimisme untuk menjadi negara agraris yang sejahtera, yang selama ini diidentikan dengan ironi dan kemelaratan.

Bila pertanian ini tak hanya dijadikan komoditas politik, tentu, kita akan menatap masa depan yang baik di sektor agraris ini. Dengan adanya perkembangan positif seperti hari ini,  mari lanjutkan kerja yang telah dimulai dengan baik oleh pemerintahan Presiden Jokowi ini.

Wajah optimisme, bekerja keras, dan disertai semangat pengabdian pada kesejahteraan rakyat adalah modal utama bagi calon pemimpin dalam memperbaiki sektor pertanian di Indonesia. Buktinya adalah capaian yang nyata, tak hanya sekadar janji di atas kertas saja.

Untuk soal ini, diakui atau tidak, suka atau tidak suka, Jokowi tetap nomor satu.

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments