in , ,

Ulama yang baik menurut KH Maruf Amin

KH. Maruf Amin dan Buya Syafii Maarif, Foto : Tribunnews.com

Ulama merupakan sebuah bentuk nama penghargaan dan pengakuan dari masyarakat atas derajat keilmuan, tingginya budi, dan santunnya perilaku seseorang. Mereka yang disebut ulama, kiai, atau habib, lebih dianggap sebagai penghubung antara yang profan (duniawi) dan sakral (ketuhanan).

Untuk itu wajar bila ulama menjadi panutan ditengah-tengah masyarakat. Sebab, dalam ranah sosial perannya sangat dibutuhkan. Ulama yang dapat dikategorikan sebagai intelektual organik  yang lahir dari masyarakat akan menjadi sumber mata air pengetahuan.

Seorang ulama itu ada nilainya. KH Ma’ruf Amin membeberkan kriteria ulama tersebut. Dalam pandangan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, ulama itu hendaknya selalu mengajak orang ke jalan Allah SWT dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Selain itu,  ulama juga harus memberi nasihat dengan baik, bukan dengan memaki-maki.

“Andai saja harus berdebat, berdebatlah dengan cara yang terbaik. Bukan yang mentang-mentang, ngotot. Berdebat dengan argumentasi kuat dan santun,” kata dia saat menerima kunjungan Relawan Millenial Jokowi Ma’ruf (Remaja) di Rumah Situbondo, Jakarta Pusat, Selasa (18/12).

Dia mengakui memang ada ulama yang ahli dalam memaki. Sehingga, ulama yang demikian itu sudah menyimpang dari tugas seorang ulama. Kiai Ma’ruf menyebut itu dengan istilah ‘al-makiun’ yang bukan merujuk ke istilah ahli Makkah (Makkiyun), tetapi pelesetan dari para pemaki.

“Kalau cara mengajak orang dengan memaki-maki, mengejek, dengan menyakiti, itu tak ada tuntunannya dari agama. Itu mungkin karena nafsunya, egonya, sehingga dia melampaui apa yang seharusnya sebagai ulama,” kata dia.

Kiai Ma’ruf mengatakan, seandainya menjadi wakil presiden kelak, dirinya akan mencari cara untuk menertibkan ulama yang demikian, sehingga bisa menjadi ulama yang sebenarnya. Jika tidak ditertibkan akan bisa menimbulkan konflik di masyarakat

Mantan Rais ‘Aam PBNU itu mengingatkan kepada para ulama dan penceramah agar membangun kecintaan, baik di kalangan umat Islam maupun dengan umat agama lain.

“Jadi bukan saling bermusuhan, saling membenci, kemudian saling memaki. Saya kira itu sesuatu yang tidak boleh. Negeri kita adalah negeri yang penuh dengan kesantunan yang diwariskan oleh nenek moyang kita,” tutur Pengasuh Ponpes An Nawawi Tanara Banten ini.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments