in , ,

Survei Abal-Abal demi Penghiburan Diri

Juru Bicara BPN Dahnil Anzar Simanjuntak dan Andre Rosiade, foto: posmetropadang.co.id

Pada dasarnya setiap orang boleh memiliki penghiburan dirinya masing-masing. Termasuk kubu 02 kala mendekati masa Pemilihan Presiden 2019 ini.

Ketika seluruh lembaga survei mengunggulkan pasangan Jokowi-Maruf Amin, maka Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membuat survei tandingannya sendiri. Tak lain itu hanyalah upaya menghibur diri bahwa mereka masih kuat bertarung.

Anehnya, hasilnya selalu berbeda-beda. Misalnya, survei internal BPN Prabowo-Sandi yang diumumkan oleh Juru Bicara BPN Andre Rosiade berbeda dengan hasil survei internal BPN versi juru bicara lainnya, seperti Dahnil Anzhar Simanjuntak.

Versi Andre, Prabowo-Sandi unggul dengan elektabilitas sebesar 48 persen. Sementara, Jokowi hanya punya 46 persen elektabilitas.

“Jadi gini, hasil surveinya 48 (persen) Prabowo, 46 (persen) Jokowi,” kata juru bicara BPN Andre Rosiade pada Senin (11/3).

Sementara versi Dahnil beda lagi. Dahnil bilang, survei internalnya menempatkan Prabowo-Sandi dengan elektabilitas 54 persen, sedangkan Jokowi hanya 40-an persen.

“Hasil survei kita, justru saat ini sudah crossing, Prabowo-Sandi sudah di angka 54 persenan sedang Jokowi 40-an,” kata Dahnil, Senin, (11/3).

Lain lagi yang diungkapkan Ferdinand Hutahaean. Ia bilang survei internal BPN menempatkan Prabowo-Sandi di angka 41 persen, sedangkan Jokowi-Maruf 42 persen.

“Kami punya hasil survei sendiri dan kami meyakini saat ini posisi elektabilitas antara Prabowo dengan Jokowi sangat dekat menempel dan belum bisa ditentukan siapa yang akan menang Pilpres ini,” ucap dia.

Melihat itu, tentu saja, kita agak bingung. Bila mereka satu tim, mengapa hasil survei internalnya berbeda-beda?

Kondisi ini tak lain menunjukkan sisi gelap dari tim pemenangan Prabowo-Sandi sendiri. Mereka menggelar survei bukan untuk mengukur sejauh mana upaya pemenangan itu dilakukan, melainkan hanya demi kesenangan diri saja. Maka jatuhnya adalah klaim.

Sebab bila itu benar-benar sebuah survei yang ilmiah dan obyektif tentunya akan memiliki kejelasan mengenai penyelenggara survei, jumlah responden, luasan survei, margin of error dan tingkat kepercayaannya.

Dalam survei internal BPN Prabowo-Sandi itu tak ada kriteria ilmiah seperti itu. Maka sudah pantas bila itu dikatakan sebagai bentuk klaim sepihak untuk penghiburan diri.

Hasil survei sah saja bila hanya untuk menyenangkan pendukung Prabowo-Sandi. Namun kita meminta pendukung tidak kecewa dan menuduh KPU curang bila Prabowo-Sandi nanti tidak terpilih.

Betul kan ya?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments