in ,

Sudah Adilkah Kita Menilai Jokowi?

Kesaksian Ust.Yusuf Mansur mengenai Kebiasaan Riligius Presiden Jokowi,foto:instagram @tuangurubajang

Selama ini, kita kerap disuguhkan cerita-cerita mengenai keburukan Presiden Joko Widodo. Terhitung sejak 2014 lalu, isu “Jokowi PKI”, “Jokowi Anti-Islam”, hingga “Jokowi antek asing-aseng” selalu disebarkan oleh pendukung oposisi.

Namun benarkah demikian? Rasa-rasanya sangat tidak adil bila kita tak pernah mengetahui informasi pastinya soal itu, tetapi turut menyebarluaskan isu-isunya. Itu tak lain adalah fitnah.

Baru-baru ini, Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengungkap kesaksian Ustadz Yusuf Mansur mengenai kebiasaan relijius capres petahana Joko Widodo. Hasilnya justru berkebalikan 180 derajat dari apa yang dikabarkan selama ini.

Seperti apa?

Kesaksian Yusuf Mansur itu diungkapkan TGB lewat Instagram resminya @tuangurubajang. Sebelumnya, TGB menyebut Yusuf Mansur setuju kesaksiannya tentang Jokowi diunggah dan dibaca publik.

Menurut TGB, unggahan itu bertujuan untuk menepis fitnah-fitnah yang kerap ditujukan kepada Jokowi.

“Sore ini, dalam perjalanan kembali dari Bogor, sahabat saya Ustadz Yusuf Mansur mengirim WA panjang. Tentang Pak Jokowi. Beliau setuju ini perlu dibaca khalayak ramai. Saya posting di sini dengan persetujuan Beliau. Silahkan dibaca dengan husnuzzhan,” tulis TGB.

Kesaksian Yusuf Mansur itu diceritakan lewat pesan WhatsApp yang kemudian di-capture TGB sebelum diunggah ke Instagram. Yusuf Mansur menyebut, apa yang selama ini dituduhkan ke Jokowi sangat tidak benar.

“Dengan hafalan Qur’an saya, saya yang begitu dekat dengan Pak Jokowi jadi saksi, apa yg sering dibicarakan tentang keburukan Pak Jokowi, hanya fitnah belaka. Ini kesaksian,” kata Yusuf Mansur.

“Sungguh saya memperhatikan. Dan prihatin,” tambahnya.

Ust. Yusuf Mansur menceritakan pengalaman kedekatannya dengan keluarga Jokowi sejak 2007. Ia berbicara tentang puasa sunnah.

“Itu mungkin persepsi dari orang lain, bukan dirinya. Dari 2007, beliau dah puasa sunnah. Sekeluarga. Rasanya kebiasaan ini, tak mungkin dipamerkan. 2007 itu, yang saya ketahui. Ada kawan saya, yang pernah pergi 1994, Solo Semarang Solo, juga sudah berpuasa. Dan ya biasa aja. Jadi saya senang jika saling bicarakan kebaikan,” sebut Yusuf Mansur.

Menurut pengakuan Ust. Yusuf Mansur, ibunda Jokowi selalu membaca surat Al Fatihah dan Al Ikhlas sebanyak 100 kali setiap malam sejak tahun 2000. Menurutnya, amalan itu selalu dilakukan Ibunda Jokowi hingga anaknya berhasil melakukan ekspor mebel perdana, menjadi Wali Kota Solo dua periode, menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga akhirnya menjadi presiden.

Diketahui dari keterangan Ust. Yusuf Mansur itu Jokowi juga rajin shalat hajat setiap harinya. Tak hanya sendiri, juga kerap mengajak menteri-menterinya. Jokowi juga sangat bersih, tak mengambil uang sedikit pun dari proyek-proyek pemerintah.

Sejak 15 tahun lalu, Jokowi juga menjadi jamaah pengajian. Selama bertahun-tahun, sikap Jokowi tak berubah di hadapan para jamaah, bahkan tempat duduknya pun tetap. Duduk bersama-sama warga. Meskipun semua jamaah tahu, dia sudah menjadi Walikota, Gubernur hingga Presiden.

Bahkan, menurut kesaksian penjaga Masjid Istana, selama 20-30 tahun ini baru Jokowi Presiden yang banyak mengunjungi masjid. Kesaksian itu dibenarkan sendiri oleh pengalaman Yusuf Mansuir yang dekat dengan Presiden Jokowi dalam setahun ini.

Bila di Solo, Jokowi jarang memakai sopir. Dia keliling kota dengan menyetir sendiri, sambil sesekali mampir ke warung langganannya. Itulah kedekatan Jokowi yang tanpa jarak dengan warganya.

Tak hanya itu, Ust. Yusuf Mansur juga bersaksi soal komitmen Jokowi di bidang perekonomian umat. Menurut Ustadz muda itu, Jokowi sangat berpikiran terbuka dan memiliki keberpihakkan yang jelas. Salah satunya melalui Bank Wakaf Mikro, dimana semangat utamanya adalah melepaskan rakyat dari riba dan rentenir.

Yusuf Mansur menuturkan sebenarnya sudah lama ingin menceritakan hal tersebut, namun selalu dilarang Jokowi. Jokowi khawatir isu miring yang kerap menyerang dirinya akan berdampak buruk untuk PayTren, usaha uang elektronik yang dirintis Yusuf Mansur.

“Saya sudah lama ingin bicara, tapi dilarang beliau. Demi Allah,” katanya.

Dengan memperhatikan cerita dari Ust. Yusuf Mansur tersebut, kita sebenarnya sangat naif melihat diri Jokowi. Hanya berlandaskan kebencian tanpa dasar, kita bisa melabeli dia dengan isu-isu yang tak benar.

Maka tak heran bila TGB menyebut Jokowi adalah Presiden yang paling banyak difitnah dan dihina.

“Mungkin tidak ada pemimpin yang paling banyak dihina melebihi beliau. Luar biasa hinaan, hujatan dan fitnahnya. Bahkan sampai pada hal inti yang menyangkut kehormatan beliau dan kehormatan keluarga beliau,” ujar TGB
TGB menceritakan, semua fitnah yang tertuju pada Jokowi, dijawab oleh mantan Wali Kota Solo ini dengan tetap kerja dan kerja.

“Yang kita saksikan bersama, walaupun fitnah demi fitnah itu tidak pernah putus, tetapi beliau tetap bekerja, sungguh-sungguh bekerja,” lanjut TGB,

Ust. Yusuf Mansur dan TGB merupakan dua ulama yang tak diragukan integritasnya. Mereka telah bicara jujur soal pribadi Jokowi.

Lantas, kita masih percaya fitnah-fitnah yang beredar soal Jokowi? Sungguh, betapa tidak adilnya diri kita.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments