in , ,

Serba-Serbi Kubu Prabowo-Sandi dalam Menanggapi Hasil Survei

Sandiaga Uno dan Fadli Zon, foto: tribunnews.com

Manusia umumnya hanya mau menerima informasi yang baik-baik saja. Mereka tak suka dengan kabar buruk. Ini adalah sifat dasar atau alamiahnya.

Bila ada informasi yang baik mengenai dirinya, maka itu akan diterima dengan senang dan hati yang lapang. Namun bila ada kabar yang buruk mengenai dirinya, maka biasanya itu disikapi dengan dua hal, yaitu menampik, dan/atau, mencari pembenaran lainnya (ngeles).

Pun begitu dengan kelakuan kubu Prabowo-Sandi kala menyikapi hasil survei. Bila hasil survei itu buruk dan tidak menguntungkan, maka mereka akan menolaknya dengan meragukan kebenaran hasil sigi tersebut.

Atau, langkah kedua, mereka akan mencari pembenaran lain dengan mengatakan, “menurut survei internal kami, kita sudah unggul”. Walaupun hingga sekarang, publik tak mengetahui sedikit pun terkait hasil dan metodologi survei tersebut.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan Prabowo pernah menegaskan diri tidak percaya pada hasil survei elektabilitas terkait pilpres yang dirilis sejumlah lembaga belakangan ini. Apalagi hasilnya selalu menempatkan dirinya kalah dari lawan politiknya.

Namun, ketika ada hasil sigi terbaru yang memberikan angin segar bagi mereka, langsung saja hal itu diklaim mirip dengan temuan internalnya. Dan, itu terlihat dari hasil survei Kompas beberapa waktu lalu.

Khususnya dari pernyataan Sandiaga Uno yang menyebut hasil survei Litbang Kompas mirip dengan hasil survei pihak internal Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

“Kami mendapati ada kesamaan dari hasil Kompas dan apa yang kami temukan (hasil survei BPN) dari 2,5 bulan lalu,” kata Sandi ditemui di Gelanggang Olahraga Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebagaimana diketahui, survei Kompas pada Bulan Februari-Maret itu menunjukkan, elektabilitas paslon nomor urut 02 pada Oktober 2018 berada di angka 32,7 persen. Sedangkan, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di bulan yang sama yakni sebesar 52,6 persen.

Diantaranya terdapat selisih elektabilitas sekitar 11,8 persen. Selisih ini lebih kecil daripada hasil survei Oktober 2018 yang mencapai 19,9 persen.

Hasil survei terbaru menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi naik menjadi 37,4 persen. Artinya, terdapat kenaikan 4,7 persen pada Prabowo-Sandi dari elektabilitas pada Oktober 2018 yang mencapai 32,7 persen.

Sedangkan elektabilitas paslon nomor urut 01 itu justru merosot ke angka 49,2 persen ada penurunan 3,4 persen dari angka pada Oktober 2018 yang mencapai 52,6 persen.

Jarak yang mendekati selisih satu digit itu jadi pencapaian Prabowo-Sandi dibandingkan hasil survei Kompas sebelumnya. Sandi menanggapi hal itu dengan memastikan bakal memanfaatkan waktu tersisa untuk membalikkan keadaan.

“Ini memang yang menjadi prediksi kami di injury time ini, di last minute ini. Yang jelas kami akan dorong dan kami akan kerahkan semua kemampuan relawan,” kata Sandi.

Lucunya, Fadli Zon yang notabene anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tak sependapat dengan hasil survei terbaru Litbang Kompas terkait elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Fadli, berdasarkan hasil survei internal, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat ini sudah melampaui Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Kalau menurut survei kami sih sudah melampaui walaupun masih tipis. Kami sangat optimistis bahwa Prabowo-Sandiaga sekarang leading dan menurut survei internal kami sudah melampaui petahana,” ujar Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Dari potongan pernyataan para punggawa kubu Prabowo-Sandi itu, kita bisa mendapati kesimpulan yang inkonsisten dari kubu Prabowo-Sandi. Masing-masing memiliki kesimpulan yang berbeda dari hasil survei yang sama.

Bila dirangkum seperti ini, “Mereka tak percaya survei bila itu buruk bagi mereka, tetapi kalau ada survei yang sedikit menguntungkan akan disebut mirip dengan temuan mereka. Namun juga itu semua salah, karena yang benar kubu Prabowo-Sandi akan menang.”

Kesimpulannya, mereka hanya menerima survei yang memenangkan Prabowo-Sandi.

Sikap anti-sains ini tentunya sungguh lucu dan ironi. Mereka mengaku sebagai koalisi akal sehat, tetapi tak mau kenyataan obyektif. Mereka itu juga mengklaim sebagai pembela Islam, namun tak mau menerima kebenaran yang datang dari luar dirinya.

Banyak inkonsistensi argumen dan pikiran dari pendukung Prabowo-Sandi ini. Entah antara delusi ataupun denial atas kenyataan.

Namun yang pasti, hingga detik ini seluruh hasil survei tak ada satupun yang memenangkan mereka. Diulangi, tak ada yang memprediksi kemenangan mereka. Bahkan dari lembaga survei yang bekerja sama dengan partai koalisi mereka sendiri (baca: Polmark pimpinan Eep Saefullah Fattah).

Dengan demikian, alangkah lebih baik bila mereka menyiapkan kekalahan dengan bermartabat. Tidak dengan meninggalkan malu dan kecacatan logika yang terekam oleh jejak digital.

Karena hal ini akan menjadi guyonan generasi mendatang.

Jangan-jangan, nanti pasca pemilihan kita akan mendapati sujud syukur berjamaah lagi, namun kenyataannya itu tak terjadi? Semoga saja tidak ya.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments