in , ,

Sandi, Belajarlah kepada Jokowi!

Sandiaga Uno dan Jokowi, foto:merdeka.com

Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, sedang dibicarakan oleh publik luas. Lantaran, meski sudah menjadi tokoh publik, ternyata kekuatan mental-nya tak seperti yang diharapkan.

Baru-baru ini, Ibu kandung Sandi, Mien Uno, turut berkomentar terkait kontestasi anaknya di Pilpres 2019. Ia tak terima anaknya kerap dicibir oleh masyarakat.

Apalagi terkait dengan tagar #SandiwaraUno yang sempat booming di media sosial lalu.

“Jadi sekarang kalau ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno dia harus minta maaf kepada ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas sandi dengan segenap tenaga untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?” kata Mien.

Perempuan berusia 78 tahun tersebut sangat ingin menjelaskan kepada pihak yang telah memfitnah anaknya bahwa putranya itu tak pernah berpura-pura dalam kampanye.

Menurutnya, sosok Sandiaga Uno telah dibesarkan dengan nilai-nilai jauh dari dari kebohongan dan kebencian.

Mungkin perasaan Mien Uno dalam kapasitasnya sebagai Ibu bisa dimaklumi. Tetapi akan bermasalah jika itu berkaitan dengan posisi Sandi sebagai tokoh publik.

Sebagai kandidat pemimpin publik, Sandiaga Uno harusnya mampu meyakinkan Ibunya bahwa segala cibiran dan caci-maki adalah hal yang wajar. Seluruh komentar terkait tingkah lakunya, apalagi berkaitan dengan politik, merupakan sebuah konsekuensi.

#SandiwaraUno adalah kritik publik atas realitas kampanye Sandiaga Uno yang terlihat secara vulgar sebagai sandiwara. Misalnya, soal sandiwara Ibu yang histeris di depan Sandi, padahal mereka sudah saling mengenal.

Ataupun, saat Sandiaga Uno bertemu dengan korban banjir bandang di Sulawesi Selatan yang terlihat aneh, dimana korban banjir hanya badan depannya saja yang terkena lumpur. Sedangkan punggungnya masih bersih.

Dari seluruh peristiwa itu, terlihat bahwa Sandi terus menerus membuat drama kampanye, yang seolah menempatkan dirinya sebagai sosok yang dirindukan rakyat.

Model kampanye seperti itu memang lebih dekat dengan pembohongan. Dan publik tidak suka dengan itu. Makanya tagar #SandiwaraUno muncul sebagai kritik.

Pada posisi itu, kritik #SandiwaraUno adalah wajar dan logis. Publik Indonesia yang cerdas dan kritis bisa menangkap pesan dengan baik.

Sebenarnya, apa yang dialami oleh Sandiaga Uno itu belum seberapa dibandingkan dengan Jokowi. Fitnah, hoax dan caci maki yang dialami oleh Jokowi itu lebih berat dan kejam lagi.

Jokowi sudah hampir lima tahun ini kerap difitnah anti-Islam, PKI, antek asing-aseng, keturunan China, hingga hoax-hoax politik yang menyerangnya.

Coba bayangkan perasaan Ibu Jokowi terkait apa yang dialami anaknya tersebut. Ia tentu saja berkali-kali lipat lebih kecewa dibandingkan Ibu Sandiaga Uno.

Tetapi di posisi itu, Jokowi tidak cengeng. Ibunya juga tidak protes ke publik. Namun lebih memilih untuk bersabar dan terus bekerja.

Diakui atau tidak, dalam menghadapi caci maki dan fitnah, Jokowi dan Ibunya lebih matang dan dewasa.

Sandiaga Uno harus belajar kepada Jokowi. Karena capres petahana itu menunjukkan sisi kepribadian manusia yang lebih kuat.

Jokowi itu layaknya manusia yang tak mempan dicibir dan tidak terbang kala dipuji. Ia seorang yang matang dan kukuh mengabdikan dirinya untuk bekerja demi rakyat.

Karenanya, tak aneh bila kita perlu menyarankan, “Sandi, belajarlah kepada Jokowi!”

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments