in , ,

Prabowo Masih Seperti yang Dulu: Temperamental dan Suka Marah-Marah

Saat Prabowo Berpidato di Sumenep, Foto: detik.com

Sikap emosional yang meledak-ledak memang telah menjadi karakter Prabowo Subianto. Emosinya yang temperamental pun kembali terkuak akhir-akhir ini.

Baru-baru ini, video capres nomor urut 02 terlihat marah-marah di hadapan ulama dan tokoh masyarakat di Sumenep beredar di media sosial. Kejadian itu terjadi kala Prabowo bersilaturahmi dengan para kiai dan tokoh masyarakat di Pondok Pesantren Assadad, Ambunten, Sumenep, Jawa Timur, Selasa (26/2).

Berdasarkan potongan video yang beredar itu, Prabowo tengah berbicara di mimbar. Tiba-tiba dia menghentikan pidatonya dan bertanya kepada seseorang yang diduga tengah berbicara sendiri.

Sembari menunjuk-nunjuk, Prabowo bertanya apakah pihak yang berbicara sendiri tersebut ingin menggantikannya bicara di atas mimbar. Tentu saja, dengan mimik wajah yang marah.

“Kenapa kok? Ada apa you bicara sendiri di situ? Apa you aja yang mau bicara di sini?” lanjut Prabowo.

“Kalau nggak, kamu aja yang bicara di sini,” sambungnya lagi. “Nggak, Pak, terus, Pak, lanjut, Pak. Lanjut,” timpal para hadirin.

Tak sekali ini saja Prabowo marah-marah kepada ulama. Sebelumnya, Prabowo juga pernah marah-marah di hadapan ulama karena disangsikan tidak bisa shalat dan ngaji.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh Penasihat Persaudaraan Alumni 212, Usamah Hisyam. Dalam ceritanya, Usamah menyebut Prabowo sempat memukul meja di depan ulama karena ada yang meragukan ke-Islamannya.

Saat itu, Amien Rais sebagai pemimpin rapat mencabut masa skorsing dan mempersilakan Prabowo berbicara. Prabowo pun mempresentasikan rencananya dan apa saja yang akan dia perjuangkan jika mendapat dukungan dari PA 212.

“Tapi di luar dugaan, di depan mukadimah Prabowo berbicara kencang. Dengan suara tinggi dia memprotes pihak-pihak yang meragukan kualitas keislamannya, ibadahnya, kemampuannya mengaji, dan menjadi imam salat,” tutur Usamah yang kini Ketua Umum PP Parmusi.
“Dan yang mengejutkan, ia berbicara sambil meninju keras meja rapat di depannya sampai lima kali tinju. Para ulama dan tokoh-tokoh yang hadir sampai terperangah, suasana pun menjadi tegang,” imbuhnya.

Cerita mengenai kegarangan Prabowo yang mengarah kepada kekerasan juga pernah terjadi beberapa tahun lalu. Ada kisah tersisa dari Pemilu 2009.

Ketika Partai Persatuan Pembangunan menarik dukungan dari Partai Gerindra pada pemilihan presiden 2009, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto sempat melemparkan telepon selulernya ke arah petinggi PPP

Cerita itu bermula ketika sejumlah petinggi PPP bertemu Prabowo di rumah Hashim Djojohadikusumo di Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada 10 Mei 2009. Petinggi PPP yang hadir antara lain Suryadharma Ali, Suharso Monoarfa, Hasrul Azwar, dan Joko Purwanto

Saksi di peristiwa itu menuturkan kepada Tempo, setelah PPP menyatakan maksud hati menarik dukungan ke Gerindra, Prabowo mengambil telepon selulernya di atas meja. Sambil marah-marah, dia melemparkannya ke arah Suharso. “Beruntung Suharso bisa mengelak,” kata saksi itu kepada Tempo.

Dari beberapa peristiwa tersebut, kita bisa memastikan bahwa Prabowo memang suka marah-marah. Dia memiliki sikap emosional yang labil, dan tak peduli kepada siapapun. Bahkan hingga kepada para ulama.

Sikap temperamental seperti itu tak cocok bila dimiliki oleh pemimpin. Karena harusnya setiap pemimpin harusnya dapat bersikap bijaksana dan sabar dalam menghadapi masalah. Bukan yang sedikit-dikit menunjuk-nunjuk orang dan melempar handphone.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments