in , , ,

”Pokoknya Jokowi yang Salah!”, Kebencian yang Melampaui Nalar

Arief Poyuono dan Fadli Zon, foto:nusantaranews.com

Benci memang sebuah penyakit. Terlalu membenci membuat seseorang tak bisa berlaku adil lagi.

Sebuah kebencian yang nir-nalar, akan membuat seseorang menjadi buta. Baginya segala hal yang berkaitan dengan dunia ini, pasti akan dinisbatkan kesalahannya kepada yang dibencinya.

Pun demikian dengan kelakuan pendukung oposisi kepada Jokowi.

Seperti dalam kasus ini:

Alkisah, ada seorang Wasekjen dari partai oposisi yang tertangkap tangan menyalahgunakan narkoba. Tak hanya itu, dia pun diamankan bersama seorang perempuan di sebuah hotel. Sebut saja pelakunya adalah Andi Arief.

Tentu saja, semua orang mengenalnya karena dia adalah politisi yang memiliki rekam jejak panjang di panggung politik Indonesia. Sudah tampil berani sejak masa Orde Baru. Dia juga yang berani mengungkap kasus “Jenderal Kardus”, menjelang pengumuman capres-cawapres lalu.

Tetapi secara tiba-tiba, tak ada angin dan tak ada hujan, Jokowi yang disalahkan. Dengan tuduhan ngalor-ngidul, pokoknya Jokowi yang salah atas tertangkapnya Andi Arief itu.

Adalah, Arief Poyuono, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang mengatakan demikian. Baginya tak ada pihak lain yang patut disalahkan dari tertangkapnya Andi Arief itu kecuali Jokowi.

“Andi Arief cuma jadi korban kegagalan pemerintah Joko Widodo dalam pemberantasan narkoba di Indonesia,” begitu katanya.

Senada dengan itu, Fadli juga menilai penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini meningkat tajam. Ia menyebut pemerintahan Jokowi gagal menangani persoalan narkoba.

Fadli pun mengatakan Andi Arief merupakan salah satu contoh korban tersebut.

Dari rangkaian cerita itu, jadi begini logika oposisi itu: “Andi Arief memang mengkonsumsi narkoba. Tetapi jangan salahkan dia. Dia itu korban. Sedangkan yang salah dari seluruh rangkaian peristiwa ini adalah pemerintahan Jokowi.”

Logika yang hebat, bukan?

Tak Ada yang Lain Kecuali Benci

Respon para oposan atas tertangkapnya Andi Arief itu sanggup mengernyitkan dahi publik Indonesia. Bagaimana tidak, pernyaataaan-pernyataan mereka sungguh menunjukan logika yang absurd.

Hal itu terjadi lantaran satu sebab saja, yakni “kebencian yang mendahului nalar”. Dan, komentar-komentar Arief Poyuono dan Fadli Zon memberikan contoh yang paling gamblang atas persoalan itu.

Mereka sudah tak bisa lagi menempatkan kenyataan dan penilaian dalam porsi yang pas. Tak ada lagi obyektivitas dalam benak mereka, kecuali tertinggal nalar subyektivisme. Semuanya serba digebyah-uyah ‘pokoknya salah Jokowi’.

Padahal, kalau mereka benar-benar mengaku umat beriman harusnya mulai merenungi ayat ini: “… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS. 5: 8)

Sudahlah, Bapak-Bapak. Politik ya politik saja, tak perlu bawa-bawa kebencian yang berlarut-larut. Anda tahu, publik semakin muak dengan kebencianmu yang sudah melampaui nalar seperti itu.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments