in , ,

Pesan Reflektif Kiai Ma’ruf, “Kala Umat Islam Kehilangan Masjidnya”

KH. Ma'ruf Amin, foto:suaraislam.co

Masjid menempati peran sentral bagi kehidupan umat Islam. Sepanjang sejarah, masjid tidak hanya sekadar bangunan fisik semata, melainkan juga memiliki ‘ruh’ perubahan sosial di dalamnya.

Pentingnya peranan masjid tersebut, misalnya, terungkap dari banyaknya penyebutan kata ‘masjid’ di dalam kitab suci.

Muhammad Quraish Shihab dalam buku, “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat”, menguraikan bahwa kata “masjid” terulang sebanyak 28 kali dalam Al-Qur’an.

Sementara, dari segi bahasa kata masjid diambil dari akar kata “sajada-sujud”, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim.

Dalam pengertian sehari-hari, masjid memang merujuk pada bangunan sebagai tempat peribadatan umat Islam. Namun, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, maka hakikatnya masjid adalah seluruh tempat untuk melakukan segala aktivitas yang menunjukkan kepatuhan kepada Allah semata.

Oleh karena itu, selain sebagai sarana ibadah, masjid juga memiliki fungsi lain yang tak kalah pentingnya, yaitu sebagai sarana aktivitas sosial.

Ini yang menjadi dasar masjid biasanya digunakan sebagai pusat pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan, atau bahkan, untuk kegiatan musyawarah desa.

Tak hanya itu, masjid juga bisa menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi bagi lingkungan sekitarnya, misalnya dengan koperasi syariah. Baru-baru ini, pemerintah juga mendorong bank wakaf mikro untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui masjid dan pesantren.

Masalahnya, di era kiwari ini, tak semua masjid memiliki fungsi ideal seperti itu. Sebaliknya, justru banyak masjid yang disalahgunakan untuk kegiatan lain, yang sayangnya jauh dari nilai-nilai kebenaran dan ketuhanan.

Misalnya, masjid dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi hoax dan fitnah di masyarakat. Hal itu dilakukan melalui ceramah-ceramah yang provokatif dan memecah belah umat. Bahkan, kadang penceramahnya menggunakan kata-kata yang kasar.

Oknum yang memanfaatkan masjid untuk aktivitas sesat tersebut pada dasarnya telah mengingkari makna dan hakikat masjid itu sendiri. Pasalnya, mereka menebar narasi permusuhan dan kebencian di tempat yang harusnya cinta dan kasih sayang dinomor satukan.

Karenanya, para penebar kebencian itu tak lain adalah teman-teman setan. Tak ada satu pun nilai kebijaksanaan dalam aktivitasnya, juga sulit diterima akal sehat.

Oleh karena itu, cawapres nomor urut 01, KH. Ma’ruf Amin mewanti-wanti agar umat Islam yang moderat menjaga masjidnya. Jangan sampai masjid di lingkungannya dirusak oleh orang-orang yang memiliki pemahaman agama keras dan mengarahkan agama untuk kepentingan politik.

Kiai Ma’ruf menyindir kisah saat melakukan silaturahmi di Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Kali ini Ma’ruf bercerita soal hilangnya sandal dan masjid di mata umat. Sudah tak asing lagi bagi seorang muslim, kehilangan sandal usai beribadah di masjid.

Namun bagaimana bila saat ini muslim juga kehilangan masjid mereka?

Kiai Ma’ruf menjelaskan, itu adalah sebuah kiasan dalam internal Nahdlatul Ulama (NU). Mantan Rais ‘Aam PBNU ini sejatinya ingin mengingatkan, bahwa basis Nahdliyin semakin tergerus bila tidak waspada akan kehadiran kelompok radikal.

“Di internal NU ada keluhan, dulu kita di masjid kehilangan sandal, tapi sekarang kehilangan masjidnya. Karena masjid yang dulunya itu masjid NU tidak jadi NU, karena ambil alih kelompok garis keras,” kata Ma’ruf di Semarang, Selasa (5/2).

Ma’ruf menegaskan, masjid difungsikan untuk membina umat. Melalui rumah ibadah, NU mengajarkan Islam yang santun, moderat. Bukan lewat pemahaman keras dan ekstrem.

“Masjid itu tempat membina umat, dan cara membinanya menggunakan Islam moderat, santun, rahmat lilalamin, dan jangan sampai diisi oleh garis keras dan radikal, itu sangat bahaya,” tegas dia.

Ketua non-aktif MUI ini berpesan, lewat kisah sandal dan masjid, umat dapat lebih memakmurkan tempat ibadah tersebut. Jangan sampai ada pihak pemecah belah, marangsek dan membuyarkan kerukunan.

“Kita harus mengelola masjid dengan baik, ditakmirkan, dibina, dibangun, jangan ditelantarkan,” tutup Ma’ruf.

Selaras dengan Kiai Ma’ruf, Ketua Dewan Pembina Masyarakat Cinta Masjid (MCM) Budi Karya Sumadi juha meminta agar masjid tidak digunakan sebagai tempat untuk mengajak melakukan permusuhan maupun menyebar informasi bohong atau hoaks.

Menurutnya, masjid harus menjadi sarana menyebarkan cinta dan kedamaian di masyarakat.

“Masjid harus jadi pusat penyebar cinta. Kalau masjidnya hoaks, hoaks, hoaks, orang jadi takut,” ujar Menteri Perhubungan, sebagaimana dilansir dari mediaindonesia.com, Senin (4/2).

Hal itu diucapkannya saat menghadiri pelantikan DPW/DPC Masyarakat Cinta Masjid (MCM) Provinsi Banten di lapangan kecamatan Purwakarta, Cilegon, Banten.

Pesan dan nasihat dari Ketua Dewan Pembina Masyarakat Cinta Masjid itu benar adanya. Kita harusnya menempatkan kembali masjid pada fungsi utamanya, yakni sebagai tempat untuk meletakkan seluruh kepatuhan dan ketundukkan kepada Tuhan YME.

Mari kita jadikan masjid menjadi pusat kegiatan masyarakat yang memiliki ruh perubahan sosial. Salah satunya dengan mengisi kegiatan di masjid dengan seluruh aktivitas yang positif, baik untuk pengkajian ilmu, pemberdayaan masyarakat, hingga sarana kesehatan.

Bukan dengan hoax dan fitnah. Apalagi pesan-pesan yang mengandung radikalisme. Sekali lagi, masjid bukan untuk menyebarkan pesan-pesan kebencian.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments