in ,

Momen Natal, Ma’ruf ajak Hargai Perbedaan

KH. Ma'ruf Amin, foto;merdeka.com doc.

Sebagai negara yang majemuk Indonesia menjadi unik dan punya khas dengan caranya yang beragam. Termasuk dalam urusan agama.

Toleransi agama menjadi wajib dimiliki masyarakat dalam menjaga keutuhan bangsa. Apalagi cara hidup yang demikian tertuang dalam UUD 45 maupun Pancasila.

Setiap warga negara wajib menjunjung tinggi persatuan ditengah perbedaan keyakinan. Dalam hal mengahrgai perbedaan menjadi niscaya

Sebagai generasi penerus kita pun harus meneladani apa yang sudah dituangkan dalam pedoman bermasyarakat. Dan agama apapun pasti menjunjung tinggi kerukunan.

Indonesia juga pernah memiliki tokoh yang menyebarluaskan pemikiran yang toleran. Nurcholis Madjid atau Cak Nur maupun Gus Dur menjadi tokoh pelopor toleransi.

Kemudian pada pemilihan Presiden 2019 kita juga disajikan dengan tokoh toleran. Muncul tokoh toleran yang maju dalam pilpres 2019. KH. Ma’ruf Amin menjadi tokoh toleran.

Ma’ruf Amin dalam kiprahnya kita lihat sebagai tokoh toleran. Mempersatukan masyarakat dengan pemikirannya yang moderat.

Tapi masuknya Ma’ruf dalam politik tentu saja selalu ada fitnah. Salah satunya saat menjadi Ketua MUI. Fatwanya dianggap tidak menjunjung perbedaan yang cenderung toleran.

Ma’ruf Amin membantah pernah mengeluarkan fatwa larangan ucapan selamat natal saat menjabat sebagai Ketua Umum MUI. Dia mengaku fatwa yang dikeluarkan adalah larangan seorang muslim mengikuti misa Natal.

Karena itu, dia menegaskan sama sekali tidak ada fatwa MUI soal larangan mengucapkan selamat natal bagi muslim selama kepemimpinannya.

fatwa keluar saat kepemimpinan Buya Hamka. Ma’ruf merupakan ulama aliran moderat yang tidak mempersoalkan ucapan natal.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments