in , ,

Meski Sudah Banyak Difitnah, Mengapa Jokowi Justru Unggul di Kalangan Pemilih Muslim?

KH. Ma'ruf Amin dan Presiden Jokowi, foto:geotimes.co.id

Tahukah anda, dua bulan menjelang Pemilihan Presiden suara umat Islam ternyata justru banyak merapat ke kubu Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin. Kok bisa?

Padahal, katanya, pasangan Prabowo-Sandiaga Uno adalah perwakilan Ijtima’ Ulama. Digadang-gadang pula mereka adalah pelanjut suara umat Islam di Indonesia. Namun mengapa suara umat islam justru lari dari mereka?

Alasananya sebenarnya cukup sederhana. Apabila Prabowo-Sandi diklaim sebagai penyambung lidah ulama, maka Jokowi telah menggandeng sosok ulama itu sendiri sebagai pasangannya.

Faktor itu yang memperngaruhi pilihan politik umat Islam di Indonesia.

Buktinya, baru-baru ini lembaga survei Populi Center merilis hasil siginya. Dalam survei tersebut, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin ternyata masih unggul dibandingkan Prabowo-Sandiaga Uno.

Dari sisi elektabilitas pasangan, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan 54,1 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 31 persen.

Dari keunggulan tersebut, Populi Center juga menemukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandi pada kriteria pemilih milenial dan muslim.

Pada kriteria pemilih milenial usia di bawah 34 tahun, Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dengan 50 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 38,1 persen.

Begitu juga pemilih di atas usia 35 tahun atau non-milenial, lebih banyak yang memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf sebesar 55,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandi sebesar 28,0 persen.

Selain itu, dalam kategori agama, Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dalam kriteria pemilih muslim dengan 51,1 persen sementara Prabowo-Sandi dengan 32,6 persen. Sementara pemilih beragama Kristen 88,9 memilih Jokowi-Ma’ruf Amin dan 6,9 persen memilih Prabowo-Sandi.

Tak hanya itu, Jokowi-Ma’ruf Amin juga unggul dalam kategori pemilih ormas Islam Muhammadiyah 72,1 persen dan NU 56,1 persen.

Sedanagkan, Prabowo-Sandi unggul di Persatuan Islam (Persis) dengan 64,3 persen dan Jokowi-Ma’ruf 35,7 persen. Sementara 100 persen responden dari Front Pembela Islam (FPI) memilih Prabowo-Sandi. Unggulnya suara Jokowi-KH. Ma’ruf Amin di sisi pemilih muslim dan milenial merupakan hasil kerja keras tim pendukung petahana yang cukup efektif dalam 3-4 bulan pertama masa kampanye.

Kehadiran KH. Ma’ruf Amin yang notabene adalah Ketua MUI (non-aktif) dan mantan Rais ‘Aam PBNU merupakan faktor kuncinya. Sosok ulama sepuh ini cukup menarik suara untuk kubu Jokowi. Setidaknya, pada basis-basis Islam NU dan pesantren.

Disadari atau tidak, kelompok ini memiliki suara yang tak sedikit. Sehingga, meskipun mereka tak didukung oleh kelompok Ijtima Ulama, GNPF-U, dan pendukung Aksi 212, tetapi Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin masih tetap unggul.

Tetapi, Kiai Ma’ruf bukanlah sekadar alat bagi Jokowi. Diajak Kiai Maruf sebagai cawapres merupakan wujud penghormatannya kepada ulama dan umat Islam. Jokowi ingin ada suara umat islam di dalam pemerintahannya, sehingga tuduhan bahwa umat Islam di-anaktiri-kan bisa terbantahkan dengan sendirinya.

Tesisnya adalah, bila ada ulama dalam kepemimpinan negara, maka akan mendorong semakin banyak kebaikan yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Juga akan membawa keberkahan yang lebih luas.

Ditambah dengan sosok Jokowi yang taat beragama. Maka paduan Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin benar-benar cukup merepresentasikan kelompok masyarakat Indonesia yang nasionalis-relijius.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments