in , ,

Menebak Hasil Pilpres dari Dinamika Hasil Survei, Jokowi-Ma’ruf Masih Unggul

Jokowi & KH. Ma'ruf Amin, foto:detik.com

Terhitung dari 7 April 2019, Pemilihan Presiden tinggal 2,5 bulan lagi. Waktu yang semakin pendek bagi kedua kandidat untuk meyakinkan masyarakat Indonesia.

Meskipun demikian, kita sebenarnya sudah bisa memprediksi hasil Pilpres 2019 itu sejak hari ini. Perangkatnya adalah dengan membaca hasil survei yang disediakan oleh beberapa lembaga sigi di tanah air.

Meskipun angkanya tidak selalu tepat, tetapi kita bisa mendapatkan gambaran luasnya.

Sebab, survei itu diibaratkan adalah mencicipi makanan. Bila kita hanya ingin tahu rasa sebuah makanan, maka tidak perlu kita memakan seluruhnya. Cukup mengambil sedikit bagian saja, maka kita sudah bisa memperkirakan rasa “keseluruhan” makanan tersebut.

Begitu pula dengan logika “sampel” dan “populasi” dalam sebuah survei. Untuk mengetahui pilihan politik masyarakat Indonesia, tidak perlu dengan menanyakan kepada 260 juta penduduk. Tetapi cukup dengan bertanya pada sepersekian persen warga, sehingga kita sudah bisa memprediksinya.

Tetapi ada sedikit catatan, asalkan survei-survei itu dilakukan dengan metode ilmiah yang ketat dan obyektif. Bukan karena pesanan pihak tertentu.

Hasil Survei Kandidat 01 vs 02 dalam Beberapa Bulan Terakhir

Berdasarkan survei dari beberapa lembaga, kita bisa melihat bahwa paangan capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin, berpeluang besar akan memenangkan pertarungan politik di Pilpres 2019.

Setidaknya itu bisa dilihat dari 4 lembaga survei yang rutin melakukan sigi dalam beberapa bulan terakhir, diantaranya, LSI Denny JA, Populi Center, Median, dan Charta Politika. Ditambah dengan survei percakapan media sosial dari PoliticalWave. Seluruh survei dilakukan dalam rentang waktu Oktober 2018 hingga Januari 2019.

Pertama, Lingkaran Survei Indonesia Denny JA (LSI Denny JA). Pada10-19 November 2018, dua bulan setelah masa kampanye dimulai, pasangan Jokowi-Ma’ruf memperoleh 53,2 persen, sementara Prabowo-Sandi mendapatkan 31,2 persen. Selisih suara mereka masih terpaut 22 persen.

Sementara pada survei selanjutnya yang dilakukan 18-25 Januari 2019, terjadi perubahan perolehan suara yang cukup signifikan. Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin memiliki tingkat keterpilihan 58,4 persen, sementara sang penantang justru turun menjadi 24,7 persen. Selisih suara pun menjadi semakin lebar, yakni 33,7 persen.

Kedua, survei dari Populi Center yang diambil dari dua waktu berbeda, di masa kampanye dan seusai debat pertama.

Survei pertama diambil pada Desember 2018 dengan hasil Jokowi-Ma’ruf unggul dengan 52 persen dari lawannya, Prabowo-Sandi, yang hanya mengumpulkan 30,7 persen. Perbedaan perolehan suara sebanyak 21,3 persen.

Sementara pada survei yang dilakukan pada 20-27 Januari 2019, tiga bulan sebelum Pilpres 2019, perolehan suara paslon nomor urut 01 meningkat menjadi 54,1 persen. Sedangkan, paslon nomor urut 02 menjadi 31 persen. Adapun selisih di antara keduanya menjadi 23,1 persen.

Ketiga, survei dari Media Survei Nasional (Median). Berdasarkan survei pada November 2018, Jokowi-Ma’ruf mendapatkan 47,7 persen suara, sementara Prabowo-Sandi 35,5 persen. Selisih perolehan suara keduanya sebesar 12,2 persen.

Selanjutnya, saat survei kembali dilakukan pada 6-15 Januari 2019, terjadi sedikit peningkatan dengan paslon 01 tetap unggul, yakni 47,9 persen untuk Jokowi-Ma’ruf dan 38,7 persen untuk Prabowo-Sandi. Suara keduanya berjarak 9,2 persen saja.

Keempat, survei yang dilakukan oleh lembaga survei Charta Politika. Lembaga ini melakukan survei pada dua waktu berbeda.

Survei pertama diambil pada Oktober 2018, hasilnya Jokowi-Ma’ruf mendapatkan lebih dari separuh suara sampel, yakni 53,2 persen. Sementara Prabowo-Sandi memperoleh 35,5 persen. Terdapat selisih 17,7 persen.

Di survei selanjutnya yang dilakukan pada 22 Desember 2018-2 Januari 2019, tidak terjadi banyak perubahan. Sang petahana peroleh 53,2 persen, sementara lawannya kumpulkan 34,1 persen suara. Selisih keduanya di survei kali ini adalah 19,1 persen.

Selain survei di “darat”, riset mengenai peta politik juga dilakukan di percakapan media sosial. Perisetnya adalah Political Wave. Pertimbangan riset ini karena hampir semua masyarakat sekarang sudah memiliki media sosial, sehingga kecenderungan politik di platform tersebut bisa dijadikan acuan mengenai pilihan politiknya.

Riset PoliticaWave menunjukkan pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin banyak dibicarakan warganet dibanding paslon nomor 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Penelitian lembaga riset media sosial itu periode 28 Januari 2019-04 Februari 2019.

Secara total ada 1.899.881 percakapan terkait kedua kandidat yang dilakukan oleh 267.059 akun. Diantara itu, pasangan Jokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandiaga pada jumlah percakapan, yakni sebesar 57.25%. Sementara Prabowo-Sandiaga meraih 42.75% percakapan

Jokowi-Ma’ruf Amin untuk Sementara Unggul

Dari penelitian yang digalang oleh beberapa lembaga survei di atas, kita bisa katakan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf relatif lebih unggul dibandingkan lawannya, Prabowo-Sandi. Selisih diantara mereka terentang antara 9,2 persen hingga 33,7 persen.

Meski demikian, hasil survei tersebut masih bersifat prediksi. Artinya, masih bisa berubah tergantung perkembangan situsi. Oleh karena itu, bila ingin kemenangan ada di tangan, maka kerja-kerja lapangan harus digenjot lagi.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf tak boleh lengah meskipun sudah unggul. Kerja darat (door to door) dan udara (propaganda media sosial) harus diperkuat lagi, agar kemenangan di kertas survei itu benar-benar teralisasikan di dunia nyata.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments