in , , ,

Lagi-lagi, Emak-Emak PKS Menyebarkan Kampanye Hitam di Makassar

Emak-Emak Beratribut PKS Lakukan Kampanye Hitam di Makassar, Foto: indeksnews.com

Seperti tak ada habisnya, kampanye hitam kembali terjadi menjelang Pemilu. Setelah emak-emak di Karawang ditangkap, kini seorang perempuan di Makasar Sulawesi Selatan juga melakukan kampanye hitam dengan menyebarkan kabar bohong (hoaks) dan fitnah terkait Jokowi.

Hal itu terlihat dari adanya video yang viral tentang seorang ibu yang berkampanye hitam di rumah warga. Dalam video tersebut, perempuan paruh baya itu menyebut pemerintahan Jokowi akan menghapus kurikulum agama dan menghapus pesantren.

Menariknya, ibu ini menggunakan atribut PKS dalam kampanyenya. Di roknya itu, terlihat lambang PKS dengan ukiran dua sabit dan kapas. Tidak hanya itu, terlihat juga sebuah tulisan di atasnya yang mirip dengan slogan PKS, yaitu ‘Bersih, Peduli, dan Profesional’.

Tak Masuk Akal

Tentu saja, kabar yang disampaikan oleh perempuan di Makasar itu tak benar, sekaligus tak masuk akal.

Telah menjadi hukum alam bahwa segala sesuatu yang mengandung kebohongan akan tidak masuk akal. Apalagi terkait dengan kampanye hitam kepada Jokowi-Maruf Amin.

Mana mungkin Jokowi yang beragama Islam dan terlahir dari keluarga Muslim akan mengapus Kementerian Agama.

Apalagi pasangan Jokowi adalah KH. Maruf Amin. Beliau adalah ulama sepuh mantan pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama (NU), juga Ketua Umum (non-aktif) Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bagaimana logikanya, seorang ulama akan menghapus pesantren?

Apalagi bila kita memeriksa catatan sejarah, dimana Kementerian Agama merupakan inisiatif NU dalam kehidupan bernegara. Kementerian itu pertama kali dipimpin oleh Wahid Hasyim, ayah dari mantan presiden Gus Dur dan tokoh besar NU.

Kementerian Agama sarat dengan sejarah NU. Karenanya tak mungkin akan dihapus tatkala ada kader NU di pucuk pimpinan negara.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa informasi yang disebarkan oleh seorang perempuan di Makasar itu adalah sebuah kebohongan (hoaks) dan fitnah kepada pasangan Jokowi-Amin.

Hal itu sah dikatakan sebagai bentuk kampanye hitam. Terutama dilakukan oleh pendukung koalisi 02 kepada capres petahana.

Habis Disayang, Lalu Ditendang

Nasib perempuan itu sepertinya akan sama dengan emak-emak di Karawang. Polisi akan segera menyelidiki identitasnya, sekaligus menangkapnya untuk diperiksa. Karena tindakannya sudah masuk ke dalam ranah pidana.

Mirisnya, setelah kabar tersebut beredar luas, pendukung kubu 02 mulai cuci tangan. Mereka tak mau menanggung akibat dari tindakan kader-kader yang bekerja di akar rumput.

Hal itu terlihat dari pernyataan Sekretaris DPW PKS Sulsel, Sri Rahmi. Ia dan partainya membantah bahwa perempuan itu adalah kadernya.

PKS Sulsel tidak mengakui sosok yang melakukan kampanye hitam itu adalah kadernya. “Semua pihak bisa mendapatkan seragam semacam itu,” kata Sri Rahmi.

Bantahan juga datang dari Sekretaris Bidang Polhukam DPP PKS, Suhud Alynudin. Ia mengatakan DPP PKS tidak mengenal sosok perempuan tersebut.

Sekarang, PKS dan pendukung 02 ramai-ramai menendang perempuan tersebut. Padahal, kalau di logika, tidak mungkin seorang mengenakan atribut partai dan berkampanye kalau bukan bagian dari mesin pemenangan tersebut.

Susah untuk di logika pula, partai lepas tangan terkait ini. Tak mungkin kampanye terstruktur dan masif seperti itu tak dikoordinasikan oleh struktur partai dan pendukung Prabowo-Sandi.

Kemungkinan besar, perempuan itu sekarang dijadikan tumbal. Ia ibarat pepatah, “habis manis, sepah dibuang”.

Siklus Semburan Dusta ala Prabowo-Sandi?

Apa yang dilakukan oleh perempuan di Makasar dan bantahan dari PKS merupakan satu siklus yang saling terkait. Keduanya merupakan bagian dari teknik kampanye “semburan dusta” atau firehose of falsehood.

Ciri-ciri kampanye semburan dusta mirip sekali dengan apa yang dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandi. Yakni, penyebaran informasi yang salah secara cepat dan masif, keberulangan informasi hoaks dan fitnah, dan repetisi atas hal tersebut.

Bila operasi teknik semburan dusta ini gagal, maka kubu 02 akan beramai-ramai membantahnya, sekaligus tidak mengakuinya sebagai satu kelompok. Mereka akan ditendang, sebagaimana Ratna Sarumpaet, dan emak-emak di Karawang.

Ironisnya, itu selalu melibatkan perempuaan. Korbannya adalah ibu-ibu di akar rumput yang diiming-imingi oleh sejumlah imbalan barang atau jasa, sehingga mau menyebarkan kampanye hitam. Tetapi setelah tertangkap aparat keamanan, maka tidak akan diakui.

Itulah nasib perempuan di kubu 02. Mereka hanya disesap madunya, tetapi setelah tidak berguna lagi maka akan segera dibuang.

Begitukah nasib perempuan bila 02 terpilih kelak? Mari kita pikirkan sejenak.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments