in , , ,

Kiai Ma’ruf, Profesor Ekonomi?

KH. Ma'ruf Amin, foto:detik.com

Sebagai seorang ulama, KH. Ma’ruf Amin tak hanya fasih menerangkan soal fiqh atau syariat saja, melainkan juga sangat paham dalam permasalahan ekonomi umat. Tak bisa disangkal, Kiai Ma’ruf memang seorang ahli ekonomi syariah.

Karena keahliannya itu, Kiai Ma’ruf beberapa kali menerima gelar akademik. Selain menerima gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kiai Ma’ruf juga dikukuhkan menjadi Profesor dalam bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Tak hanya itu, Ketua Umum MUI itu ternyata juga dikukuhkan sebagai Guru Besar Ekonomi Syariah Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung. Kiai Maruf dinilai sebagai sosok yang konsisten menggerakkan tumbuhnya ekonomi syariah di Indonesia.

Dengan dua gelar Profesor dan satu Doktor di atas, maka tak salah lagi bila Kiai Ma’ruf disebut sebagai Begawan Ekonomi Syariah. Kemampuan akademiknya di bidang ekonomi umat merupakan nilai tambah bila dirinya membantu kepemimpinan Presiden Jokowi.

Sebagian pengetahuan ekonomi syariah yang diperoleh Kiai Ma’ruf bersumber dari literatur klasik yang dibahas di pesantren dan pendidikan diniyyah. Namun tak hanya itu saja, sebab Kiai Ma’ruf juga mengikuti dan memadukan ilmunya dengaan pengetahuan ekonomi dari tradisi akademik kampus.

Lebih jauh lagi, kemampuan Kiai Ma’ruf menangani ekonomi umat ini lebih banyak dipengaruhi pengalamannya yang panjang di dunia ekonomi syariah. Sebagian besar pengetahuan dan kemampuan itu justru lahir dari pengalaman dan praktik.

Sejak era 1990-an, Kiai Ma’ruf gigih memperjuangan gagasan mengenai sistem ekonomi syariah demi terwujudnya lembaga keuangan berbasis Islam. Beliau sering melakukan sosialisasi terhadap jajaran pejabat BI menjadi pertimbangan lahirnya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang memungkinkan beroperasinya bank dengan sistem bagi hasil.

Undang-undang ini kemudian diamandemen dengan UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang secara eksplisit menyebut­kan istilah bank berdasarkan prinsip syariah.

Dengan lahirnya undang-undang tersebut, MUI kemudian merekomendasikan pendirian lembaga keuangan berbasis syariah. Rekomendasi MUI ini disambut positif oleh para aktivis ekonomi syariah dengan cara menggiatkan sosialisasi sistem keuangan syariah.

Upaya yang dilakukan ini membuahkan hasil lahirnya lembaga yang menggerakkan ekonomi syariah seperti, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) pada tahun 1999, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI) dan lainnya.

Secara praktis, Mantan Rais ‘Aam PBNU ini telah menyumbangkan banyak pemikiran yang berdampak pada perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Beberapa kalangan menyebut Kiai Ma’ruf sebagai saksi sejarah dari berkembangnya perekonomian syariah di Indonesia.

Kegigihan Kiai Ma’ruf dalam mengembangkan ekonomi syariah ini bukan tanpa alasan. Kiai Ma’ruf ingin kegiatan agama itu tak hanya berurusan dengan akhirat saja, tetapi juga mengurusi kehidupan nyata di dunia, seperti perekonomian. Apalagi mengingat masih marak kemiskinan di Indonesia.

Keprihatiannya ini yang menggerakkan usahanya untuk mencari jalan keluar. Menurut Kiai Ma’ruf, jihad ekonomi atau upaya memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh umat, baik Muslim maupun non-Muslim, adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi kita semua.

“Menyejahterakan masyarakat adalah fardhu kifayah. Harus ada yang memikirkannya, baik itu soal sandang, pangan, pakaian. (Baik untuk) umat Islam maupun Non Muslim, karena negara kita adalah daarul mitsaaq (negara kesepakatan bersama),” kata Kiai Ma’ruf, sebagaimana dilansir dari Kumparan, Minggu (9/12).

Dengan begitu, sudah tepat bila Presiden Jokowi menggandeng Kiai Ma’ruf sebagai calon wakil presiden. Bersama Kiai Ma’ruf, Jokowi akan bekerja membangun Indonesia yang maju bersama.

Indonesia yang maju, mandiri, berdaulat, dan berkepribadian gotong royong sesuai karakter manusia Pancasila yang berbhineka tunggal ika.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments