in , ,

Kiai Ma’ruf dan Pentingnya Dukungan Masyarakat Betawi di Jakarta

Kyai Ma'ruf Amin, foto:doc

Calon Wakil Presiden nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin menerima kunjungan sekaligus dukungan dari masyarakat Betawi yang menamakan Betawi Bela Ma’ruf Amin (BBM) dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2019.

“Kami sangat gembira dan tersanjung atas silaturahmi dan dukungan dari masyarakat Betawi yang merupakan penduduk asli dan bagian penting dari komunitas di Jakarta, ” kata KH Ma’ruf Amin di kediamannya di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta, Senin (24/12).

Rombongan masyarakat Betawi yang berkunjung ke kediaman Ma’ruf Amin dipimpin oleh mantan Wakil Sekjen Bamus Betawi, Muhidin Muchtar.

Kunjungannya ke kediaman Kiai Ma’ruf untuk mendukung sekaligus meminta kesediaan calon pendamping Presiden Jokowi pada Pilpres 2019 itu hadir saat deklarasi relawan Betawi Bela Ma’ruf Amin (BBM) yang akan dilaksanakan pada Januari 2019.

Hadirnya dukungan dari tokoh dan masyarakat Betawi ini sebenarnya cukup masuk akal. Sebab Kiai Ma’ruf sendiri merupakan ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang tinggal cukup lama di Jakarta.

Sebagaimana diketahui, sejak awal 1960-an Kiai Ma’ruf sudah menjadi guru dan penceramah di Jakarta Utara. Ia juga memimpin organisasi Gerakan Pemuda Ansor dan beranjak memimpin Nahdlatul Ulama dari Jakarta.

Tak hanya itu, Kiai Ma’ruf juga memulai karier politiknya dari menjadi anggota DPRD DKI Jakarta selama dua periode pada tahun 1973-1978 dan 1978-1983.

Praktis, aktivitas sosial dan karier politik Kiai Ma’ruf dibangun dari Jakarta, yang notabene mayoritas masyarakatnya adalah Betawi. Selama berjuang itu pula banyak hal yang sudah dikerjakan Kiai Ma’ruf untuk membantu masyarakat Betawi.

Oleh karena itu, tak heran bila kini masyarakat Betawi mendukung Kiai Ma’ruf ketika dirinya mencalonkan diri sebagai cawapres bersama Presiden petahana, Jokowi.

Kiprah panjang Kiai Ma’ruf sebagai ulama di Jakarta dapat dibuktikan dari banyaknya majelis ilmu yang pernah digalangnya. Kelompok jama’ah ini adalah umat Islam, yang sebagian besar beretnis Betawi.

Tak tercatat sudah ada ribuan orang yang pernah belajar mengaji ke Kiai Ma’ruf. Kelompok-kelompok pengajian ini yang mulai bergerak menjadi mesin pemenangan Kiai Ma’ruf di Jakarta. Relawan BBM adalah salah satunya.

Mereka ini akan bersosialisasi dan mengajak masyarakat lebih luas untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan bangsa Indonesia, menjadi negara yang maju dan sejahtera. Serta, menghargai keberagaman dan memperkuat jiwa kebangsaan Indonesia.
Adanya dukungan tokoh masyarakat Betawi itu begitu penting. Pasalnya, para tokoh tersebut berasal dari Bamus Betawi, yang memiliki suara di akar rumput.

Sebagaimana diterangkan Kiai Ma’ruf, di DKI Jakarta ada beberapa organisasi masyarakat Betawi yang terbentuk hingga sekarang, tapi organisasi-organiasi itu menginduk kepada Bamus Betawi. Sementara Bamus Betawi sendiri adalah ormas independen yang tidak berafiliasi dengan kelompok politik tertentu.

Dalam masyarakat Betawi, posisi ulama memang sangat penting dan dekat dalam kehidupannya. Agama adalah relung jiwa masyarakat Betawi sejak masa kolonial. Kiai benar-benar menjadi panutan.

Mereka pun bersyukur sekarang ada ulama yang digandeng maju menjadi pemimpin Indonesia.

“Pak Jokowi sudah benar memilih kiai, mengikuti ijtima’ ulama. Betawi sama ulama dan NU itu melekat seperti mata uang. Kita sama kiai itu mahabah cium tangan dua kali bolak balik,” ujar Muhidin dengan logat khas Betawinya.

Jakarta, disadari atau tidak, adalah ruang pertarungan yang keras bagi setiap kandidat. Ibukota ini adalah jantung pemerintahan dan ekonomi. Siapa yang menguasai wilayah ini, memudahkan langkah menuju Istana.

Kiai Ma’ruf adalah sosok ulama Betawi, penduduk asli Kota Jakarta. Dukungan dari kelompok masyarakat ini akan menjadi mesin penggerak suara yang sangat penting di kampung-kampung kota.

Pilpres 2019 ini menjadi pertaruhan. Apakah masyarakat Betawi masih cinta dan setia mendukung ulama betulan yang telah berkiprah sejak puluhan tahun lalu di Jakarta, atau justru mendukung kandidat yang sekadar memainkan ‘gimmick’ ulama.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments