in , ,

Kiai Ma’ruf dan Kecintaannya pada Anak Kecil

Kiai Ma'ruf dan Cucunya, foto: jpnn.com

Di tengah kesibukannya, KH. Ma’ruf Amin masih bersedia menyempatkan waktunya untuk bermain bersama cucu-cucunya. Kegiatan ini dilakukan kapan saja di sela-sela kegiatannya yang padat.

Seperti saat dirinya baru saja melepas tamunya, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di kediamannya, Jalan Sitobondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/1). Dia tampak bercengkerama dengan cucunya, Zainatun.

Zaitunah yang biasa dipanggil Zaza masih berumur 2.5 tahun. Zaza merupakan putri dari Siti Haniatun Nisa, puteri bungsu KH Ma’ruf Amin.

Sambil makan, Zaza berlari-lari di ruang tamu, di mana Ma’ruf Amin biasa menerima tamu-tamunya. “Wah makan sendiri nih,” ujar Kiai Ma’ruf.

Usai menyendok makanannya, Zaza pun mendekat. Ma’ruf memeluk dan mencium pipi dan kening sang cucu. Kiai Ma’ruf mengaku gembira apabila dikunjungi oleh cucunya.

“Kalau cucu datang ke rumah, saya pasti senang. Saya tanyain mereka lagi ngapain,” lanjutnya. Saat ini, Kiai Ma’ruf telah memiliki 16 cucu dari 7 anaknya.

Kebiasaannya bermain dengan cucunya itu tak pernah ditanggalkan meskipun dirinya sangat sibuk. Baginya bermain dengan anak-anak membuat pikiran jadi segar dan perasaan menjadi senang.

Kecintaan Kiai Ma’ruf pada anak-anak kecil itu merupakan salah satu adab terpuji dalam Islam. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Bukan termasuk dari golongan kami orang yg tak menyayangi anak kecil dan tak menghormati orang tua (orang dewasa).” (HR. Hadits Tirmidzi No.1843)

Dalam hidupnya, Rasulullah SAW sangat mencintai anak kecil. Banyak kisah yang menggambarkan besarnya kecintaan beliau kepada anak-anak.

Suatu hari, Rasulullah harus memendekkan bacaan shalatnya ketika mendengar anak menangis. Nabi SAW juga pernah mengangkat anak yang jatuh di dekatnya ketika sedang khotbah.

Rasulullah pun selalu menghibur dan menggembirakan hati anak-anak. Bila datang seseorang membawa bingkisan berupa buah-buahan, maka yang pertama diberinya adalah anak-anak kecil yang kebetulan ada di majelis itu.

Jabir bin Samurah, sahabat Nabi Muhammad SAW, mengatakan bahwa Rasulullah suka mengusap kepala anak-anak. Suatu ketika, dirinya pernah shalat bersama Rasulullah pada shalat Dhuhur.

Seusai shalat, Rasulullah keluar ke tempat keluarganya, dia pun keluar bersama Rasulullah. Rasulullah tampak menciumi anak-anaknya dan mengusap kedua pipi mereka satu persatu.

Leluhur Kiai Ma’ruf, Syekh Nawawi Al Bantani pernah menerangkan mengenai keutamaan mencintai anak-anak ini, hingga bisa menjadi kafarat (penebus) dosa.

Dalam kitabnya, Qâm‘uith Tughyân di halaman 18, Syekh Nawawi menjelaskan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib menceritakan, bahwa ada seorang tamu datang kepada baginda Nabi Muhammad untuk melaporkan bahwa ia telah melakukan perbuatan maksiat, dan meminta kepada Nabi agar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa tamu tersebut.

Sebelum permintaan itu dipenuhi, Rasulullah pun bertanya kepada si tamu tersebut, “maksiat apa yang telah kamu lakukan?

“Saya malu mengungkapkan perbuatan masiat tersebut, Ya Rasulullah SAW,” Jawab si Tamu.

Kemudian Nabi mendesak, “Kenapa kau harus malu menceritakan di depan saya tentang dosa-dosa yang telah kamu perbuat, sedangkan kepada Allah swt. yang selalu memantaumu tidak malu?

Setelah itu Rasulullah meminta kepada si tamu untuk segera pergi. “Pergilah, sebelum api neraka datang ke sini karena ulah dosa-dosamu!”

Akhirnya si tamu tersebut pergi sambil menangis dengan perasaan sedih bercampur kecewa.

Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril datang dan menegur Nabi, “Ya Muhammad janganlah membuat si tamu yang melakukan maksiat merasa sedih dan putus asa, karena si tamu sudah membayar kafarat (denda) atas dosanya, walaupun dosa tersebut besar”.

Nabi Muhammad pun bertaya, “Apa kafaratnya?

“Kafaratnya adalah anak kecil. Ketika tamu yang datang tadi tiba di rumahnya, tiba-tiba ada anak kecil mencegatnya dan meminta sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya tamu itu memberikan makanan. Lantas anak itu pergi dengan perasaan senang dan bahagia. Itulah kafarat atas dosa si tamu,” jelas Malaikat Jibril kepada Rasulullah.

Beberapa kisah di atas menjadi pengingat bagi kita semua bahwa mencintai dan menyayangi anak kecil adalah bagian dari perintah agama. Hal itu yang diamalkan oleh Kiai Ma’ruf melalui ‘laku’ bermain dengan cucu-cucunya di tengah kesibukan kerjanya.

Para Rasul, Nabi, Ulama, dan pemimpin lainnya, umumnya adalah pencinta anak-anak. Hatinya terasah untuk menebar kasih sayang karena terbiasa berbagi kebahagiaan bersama anak-anak.

Jadi, ikutilah pemimpin yang mencintai anak-anak, maka Insyaallah kehidupan dunia ini bisa lebih adem, damai dan ceria. #IkutKiai.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments