in , , ,

Kiai Ma’ruf Berbicara Ekonomi di saat Kampanye

KH. Ma'ruf Amin, foto:detak.co

Dalam sepekan ini, Calon Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin melakukan safari dari Jakarta ke Surabaya. Sepanjang perjalanannya itu, Kiai asal Banten ini tak henti-hentinya mempromosikan gagasannya mengenai ‘Arus Baru Ekonomi Indonesia’.

Hal ini seperti terlihat saat Kiai Ma’ruf berkampanye di Gedung Wisma Koperasi Tunas Artha Mandiri (TAM) Syariah, Kab. Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (22/1). Ketua Umum MUI ini berkomitmen untuk menerapkan konsep Arus Baru Ekonomi Indonesia ketika terpilih menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Jokowi.

Melalui gagasan tersebut, Kiai Ma’ruf percaya bahwa pembangunan ekonomi itu bisa dilakukan dari bawah. Skemanya melalui ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada pemberdayaan rakyat atau umat.

“Pemberdayaan umat yang paling penting. Apabila ekonomi umat kuat, maka bangsa akan kuat juga,” kata Kiai Ma’ruf sebagaimana dilansir dari liputan6.com, Rabu (23/1).

Gagasan ini tentu saja ‘face to face’ atau berkebalikan dengan arus utama ekonomi hari ini. Sebab, arus ekonomi mainstream itu telah melahirkan ‘trickle down effect’, atau efek menetes ke bawah.

Tetapi masalahnya, perekonomian elit itu ternyata tak ‘menetes ke bawah’. Sebaliknya, hanya menciptakan kelas baru yang lebih sedikit, yakni konglomerasi. Segelintir orang kaya ini yang menguasai ekonomi.

Dampaknya adalah ketimpangan yang luar biasa. Kesenjangan sosial ini yang menjadi akar dari beragam penyakit sosial lainnya.

Salah satu poin penting dari Arus Baru Ekonomi Indonesia terletak pada usahanya untuk memberdayakan rakyat, bukan hanya para pemodal besar saja.

Dengan memberdayakan rakyat, maka kekuatan ekonomi itu akan terletak pada masyarakat. Rakyat yang akan menjadi subyek pembangunan. Dalam skala luas akan mendorong adanya pemerataan ekonomi.

Program pemberdayaan rakyat itu, salah satunya bisa dilakukan dengan membentuk usahawan atau entrepreneur syariah guna mendorong geliat pasar ekonomi syariah. Mengingat ruang ekonomi syariah saat ini sudah tergolong banyak, namun akses dihadirkan belum mengakomodir para pelaku usaha yang bergerak di bidang terkait.

Oleh karenanya, Kiai Ma’ruf berharap para santri nanti dapat menjadi pelaku usaha yang menggerakan ekonomi syariah itu.

“Membangunkan santri untuk melek ekonomi adalah salah satu pemberdayaan umat. Jadi santri tidak semuanya jadi kiai, tapi jadi wirausahawan,” kata Ma’ruf

Nantinya program digagas Ma’ruf akan diberi tajuk “Gus Iwan”, Santri Bagus Pintar Ngaji Usahawan. Diharapkan, dengan adanya program itu bisa mendorong adanya pelaku usaha baru yang bisa menggerakan sektor riil rakyat.

Namun yang perlu diperhatikan, pemberdayaan ekonomi itu mesti mencakup seluruh lapisan masyarakat. Kiai Ma’ruf menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci mengatasi kesenjangan ekonomi.

Ia juga menekankan, bicara pemberdayaan ekonomi tidak harus membenturkan umat atau masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah dan konglomerat, melainkan dapat dikolaborasikan agar keduanya sama-sama berdaya.

“Dilakukan kolaborasi, kerja sama, kemitraan, sinergitas sehingga yang kuat, tetap kuat; yang lemah menjadi kuat. Ini yang namanya sinergi,” kata Kiai Ma’ruf.

Cara pandang yang luas, disertai dengan fasih berbicara teori ekonomi merupakan keunggulan Kiai Ma’ruf. Apalagi ditambah dengan pengalamannya membangun ekonomi syariah di Indonesia.

Paduan itu semakin meyakinkan kita bahwa gagasan ekonomi yang ditawarkan oleh Kiai Ma’ruf tak hanya pepesan kosong. Apa yang dibicarakannya terbukti bernas dan substantif sesuai dengan kebutuhan masyarakat hari ini.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments