in , , ,

Kiai Maruf Akan Dukung Fintech Syariah Bila Terpilih sebagai Wapres RI

KH. Ma'ruf Amin,foto:okezone.com

KH. Maruf Amin adalah sosok besar dalam dunia ekonomi syariah nasional. Beliau akan membawa gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia, termasuk perekonomian syariah, jika terpilih menjadi Wakil Presiden RI nanti.

Diakui atau tidak, ekonomi syariah di Indonesia pada dasarnya sudah menjadi sistem yang dianut secara nasional, selain sistem ekonomi konvensional. Bahkan perkembangan ekonomi umat Islam itu sudah mengalami perkembangan pesat, salah satunya karena perkembangan teknologi informasi.

Kiai Ma’ruf Amin melihat kemungkinan sistem keuangan digital (fintech) dapat diterapkan pada sistem ekonomi syariah. Kata dia, fintech diperbolehkan asal tidak mengandung bunga, riba, dan manipulasi.

“Sekarang ini fintech adalah layanan teknologi digitalisasi yang jadi tren lembaga keuangan di seluruh dunia. Apakah fintech bisa diterapkan melalui keuangan syariah? Dewan Syariah Nasional melakukan pembahasan dan mengatakan boleh sepanjang tidak ada bunga, tidak ada riba, gharar, manipulasi tidak ada. Di situ gambling,” ujarnya.

Seperti diketahui, perusahaan fintech lending pada dasarnya menawarkan bunga bagi para peminjam atau nasabahnya. Perkembangan ini membuat transaksi ekonomi dan akses modal makin inklusif, karena bisa menjangkau masyarakat yang belum mendapatkan layanan perbankan.

Oleh sebab itu, Ma’ruf Amin berjanji akan menjadikan pengembangan bisnis perusahaan rintisan (start up) yang bergerak di bidang usaha teknologi finansial (fintech) syariah sebagai salah satu fokusnya jika terpilih sebagai orang kedua di Indonesia dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

“Itu akan kami dorong dengan berbagai kesiapan infrastrukturnya sehingga tinggal memanfaatkan infrastrukturnya,” ucap Ma’ruf, Rabu (13/2).

Ma’ruf mengaku akan mendorong industri fintech syariah melalui Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Ia menjelaskan lembaga itu mengurusi ekonomi syariah secara keseluruhan.

“Apabila saya nanti terpilih, saya akan dorong secara keseluruhan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” tutur Ma’ruf.

Sejatinya, lanjut Ma’ruf, fintech yang berbasis syariah tentu sudah sesuai dengan ekonomi syariah bila mengacu pada fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun lalu.

Keduanya adalah fatwa mengenai uang elektronik syariah dan layanan pembiayaan berbasis teknologi informasi berdasarkan prinsip syariah.

“Saya sampaikan bahwa penerapan fintech tidak bertentangan dengan ekonomi syariah,” tegas Ma’ruf.

Keberadaannya justru memberikan kemudahan lebih bagi masyarakat, khususnya umat Islam. “Penggunaan fintech diyakini bisa kembangkan teknologi khususnya di keuangan syariah,” ucap Ma’ruf.

Ia menambahkan bahwa pengembangan fintech syariah juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi ke depannya. Sebab, berbagai sektor industri berbau halal akan ikut berkembang.

Selain itu, fintech sendiri juga sangat bermanfaat bagi sistem perekonomian Indonesia saat ini. Dengan teknologi, fintech mampu membuka akses keuangan ke berbagai tempat tanpa batasan.

“Jadi tidak terbentuk kantor. Dengan sistem yang dibangun pemerintah bisa permudah akses keuangan syariah. Itu akan kita dorong. Pak Menkominfo sudah siapkan infrastruktur (internet), tinggal kita memanfaatkannya,” ujar Ketua MUI (non aktif) ini.

Menurutnya, saat ini banyak masyarakat merintis usaha dan perlu pendanaan, tapi terbentur dengan berbagai hal. Nah, kehadiran fintech menjadi salah satu jawaban untuk persoalan itu.

“Jadi bagaimana umat diberdayakan agar punya akses. Jadi bottom up economic development. Bangun ekonomi bawah, ekonomi umat,” tuturnya.

Prinsip pembangunan dari bawah inilah yang melandasi pemikiran Kiai Maruf untuk mendorong perluasan fintech ke arah syariah. Bila itu terealisasi, maka semakin banyak akses modal bagi rakyat untuk berusaha, juga membantu pemerintah untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi dari bawah.

Gagasan bernas seperti ini patut didorong dalam kontestasi politik. Agar panggung perebutan kekuasaan tak melulu berisi hoax dan narasi kosong.

Sudah seharusnya kita kembalikan gagasan/ide menjadi sentral pembicaraan dalam panggung politik kita.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments