in , ,

KH. Ma’ruf Amin, Sosok Kiai Plus-Plus di Indonesia

KH. Ma'ruf Amin, foto:tempo.co

Siapa yang tak kenal KH. Ma’ruf Amin di dunia ekonomi syariah? Namanya membumbung tinggi, karena beliau adalah salah satu tokoh begawan dan saksi sejarah perjalanan ekonomi ‘halal’ di Indonesia.

Meskipun demikian, ternyata sikap Kiai Ma’ruf sangat rendah hati sekali. Dia seperti tak mau disebut-sebut sebagai ahli ekonomi syariah.

Padahal, kalau kita telusuri jejak akademisnya pun sudah ada beberapa kampus yang memberikan gelar Doktor Kehormatan dan Professor di bidang tersebut. Ia diakui karena kepakaran dan pengalamannya yang panjang di dunia ekonomi syariah.

Sikap rendah hati itu bisa dilihat dari penuturan Kiai Ma’ruf dalam diskusi bedah bukunya bertajuk “Keadilan, Keumatan, Kedaulatan, The Ma’ruf Amin Way” bersama sejumlah tokoh di Padang, Sumatra Barat, Jumat (8/2)

Ia tak mau menyebut dirinya, “Ya, saya ahli ekonomi syariah”, tetapi dengan malu-malu, Kiai Ma’ruf justru menyebut dirinya “hanya” memiliki perhatian besar pada ekonomi. Dengan merendah, Kiai menyadari sepenuhnya dirinya bukan ahli di bidang tersebut.

“Saya seorang kiai, ahlinya syariah. Tapi, memang saya punya perhatian khusus terhadap masalah ekonomi,” ungkap Ma’ruf

Meskipun demikian, bukan berarti gagasan ekonominya itu kosong dan tak ada isinya sama sekali. Sebaliknya, apa yang diungkap Kiai Ma’ruf itu justru sangat kontekstual dengan kebutuhan mmasyarakat hari ini.

Kiai yang pernah menjadi Ketua MUI dan Rais Aam PBNU ini menuturkan bahwa perhatian utamanya ada pada pengembangan ekonomi syariah dan ekonomi keumatan. Hal ini berawal dari keinginannya menjaga umat dari bermuamalah yang tidak sesuai syariah.

Seperti tertuang dalam bukunya, Kiai Ma’ruf menjelaskan bahwa arus baru ekonomi Indonesia mencoba membalik sistem “Trickle Down Effect” yang mengandalkan konglomerasi, menjadi sistem “Bottom Up Economic Development”, atau membangun dari bawah ke atas.

“Ini bukan sistem baru. Namun, sudah ada dalam amanat UUD 1945 yang mengatur soal ekonomi kerakyatan,” ungkapnya. “Bahkan, ide ekonomi kerakyatan itu juga sudah dilontarkan jauh hari oleh tokoh Sumatra Barat yang juga Proklamator Kemerdekaan RI Bung Hatta,” tambah Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf menuturkan bahwa membangun ekonomi umat juga tidak perlu membenturkan yang lemah dan kuat. Membangun ekonomi bisa dilakukan dengan mengelaborasi, memitrakan, dan menyinergikan yang lemah dan kuat dalam bentuk pengembangan ekonomi masyarakat.

“Saya sering menyebutkan ekonomi keumatan. Ya, umat bagian terbesar bangsa. Kalau umat lemah, bangsa juga demikian, umat kuat, bangsa juga kuat. Karena itu perlu dibangun ekonomi keumatan, ekonomi kerakyatan,” kata Ma’ruf.

Selain ekonomi keumatan, Kiai Ma’ruf memiliki perhatian pada sistem ekonomi syariah, yang terus berjalan di negeri ini. Terutama bank syariah, asuransi, pasar modal, hingga Sukuk atau obligasi syariah.

“Bahkan soal sukuk ini kita menjadi pihak yang mengeluarkan produk terbesar di dunia. Setidaknya sudah menyumbangkan untuk APBN kurang lebih Rp 950 triliun,” kata Kiai Ma’ruf.

Ia bersyukur sekarang ini banyak pula bank-bank daerah yang mengonversi sistem konvensial ke syariah, termasuk Bank Nagari Sumbar yang tengah dalam proses konversi.

Lebih lanjut Ma’ruf terus mendorong pengembangan sistem halal di Indonesia. Dia mengatakan sekarang sudah ada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

“Semula halal ini bersifat sukarela, tapi setelah keluarnya UU itu, maka sistem halal di Indonesia bukan lagi sukarela tapi wajib,” ungkap Kiai Ma’ruf.

“Produk halal yang awalnya untuk menjaga umat, sekarang sudah menjadi bisnis global. Kita akan mengembangkan kawasan industri halal, dan membangun halal port sehingga tidak terkontaminasi non-halal,” jelas Ma’ruf.

Dengan seluruh kemajuan itu, Kiai Ma’ruf yakin pembangunan ekonomi menuju Indonesia yang Maju dan mandiri, memperbesar manfaat yang ada, menyempurnakan manfaat, dan menambah lagi kemanfaatan, akan membuat ekonomi nasional lebih baik.

Kiai Ma’ruf memang bukan kiai biasa. Ia adalah kiai plus-plus.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments