in ,

Kedekatan Batin dan Kunjungan Kiai Ma’ruf ke Banten

Kyai Ma'ruf Amin, foto: rmollampung.co, dok.

Tsunami Selat Sunda benar-benar membuat kita terhenyak. Malam-malam di penghujung tahun yang diangankan penuh kegembiraan, ternyata justru berubah menjadi tangis haru bagi masyarakat Banten dan Lampung.

Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam benar-benar meresahkan batin KH. Ma’ruf Amin. Sebagai orang Banten, bencana ini memiliki kesan mendalam. Sebab terjadi di wilayah yang punya kedekatan batin dengan dirinya.

Tak ingin menunda lebih lama, Kiai Ma’ruf ingin segera menyambangi saudaranya di lokasi bencana. Pada Selasa (25/12) kemarin, Kiai kelahiran Banten ini bertolak ke Pandeglang, Banten.

Meski selama ini Kiai Ma’ruf dianggap lambat karena faktor usia, dan dianggap kurang sehat serta kurang cekatan. Tapi kesigapannya pada tsunami Banten telah membuktikan kebalikannya. Jiwa dan empati sosial mengalahkan semua anggapan itu.

“Kami merasa prihatin, merasa ikut bersedih. Mereka adalah keluarga kami karena itu kami akan ke sana supaya tidak hanya melihat dari jauh, kami juga ingin berbicara, berbincang, dan berbagi rasa,” ujar Ma’ruf di depan rumahnya, sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (25/12).

Kiai Ma’ruf membawa berbagai macam bantuan seperti beras, sarung, dan tenda. Dia juga dititipi obat-obatan dari perusahaan Kimia Farma untuk diberikan kepada para korban.

Tujuan pertama mereka adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang. RSUD tersebut memang menjadi salah satu tempat dirawatnya korban yang selamat. Di sini, Kiai menjenguk para korban, sekaligus berusaha menguatkan batin mereka yang tengah terluka.

Setelah dari rumah sakit, Kiai Ma’ruf mengunjungi dua posko pengungsian. Posko pertama ada di Kantor Kelurahan Sukasari, Kecamatan Pulosari. Posko kedua ada di Masjid Jami Al Mu’amanah di Kampung Tenjolahan Timur, Jalan Raya Caringin.

Begitu Kiai Ma’ruf hadir, para pengungsi langsung mendekati mantan Rais ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) itu. Pengungsi yang terdiri dari para ibu, bapak, dan anak-anak itu kemudian duduk di sekitar Ma’ruf.

Di hadapan mereka, Kiai Ma’ruf kemudian bertanya tentang kehidupan mereka selama di posko. Tak ketinggalan, Kiai juga menasehati para warga agar bersabar dan menyerahkan seluruhnya pada Tuhan YME.

“Iya lagi ada musibah di mana-mana. Kita harus sabar. Mudah-mudahan Tuhan kasih balasannya,” kata Ma’ruf Amin.

Warga terlihat antusias atas kedatangan Kiai Ma’ruf dan menjelaskan kabar mereka kepada kiai sepuh itu. Tidak ada tangisan ketika warga yang mengungsi bercerita kepada Ma’ruf.

Pada akhir kunjungannya di tiap posko, Ma’ruf selalu mengajak warga untuk berdoa bersama. Warga mengangkat tangannya kemudian mengucapkan ‘amin’ pada setiap doa yang diucapkan Ma’ruf.

Sebagai ulama, Kiai hadir memberi ketenangan dan mengajak para korban untuk semakin mendekatkan diri pada pencipta di tengah bencana.

“Ini namanya ujian, diuji kesabarannya. Ini ujian dari Allah SWT. Semoga sabar, mudah-mudahan ada balasannya. Jangan mengeluh, jangan marah sama Allah,” kata Ma’ruf.

Dalam momen tersebut, Kiai Ma’ruf menegaskan dia tidak berkampanye pada hari itu. Selain bertemu langsung para korban, kunjungan ini sekaligus melihat penanganan terhadap mereka.

Dia puas korban selamat sejauh ini dapat ditangani dengan baik oleh pemerintah. “Saya lihat penganannya cukup bagus, artinya cepat. Kemudian yang meninggal juga cepat diurus, yang harus dioperasi juga dioperasi, yang tidak bisa ditangani di Pandeglang dikirim ke Serang. Saya kira itu cepat sekali,” ujar Kiai Ma’ruf.

Meski demikian, dia maklum ada permintaan dari korban untuk segera kembali ke rumah masing-masing. Kiai Ma’ruf berharap pemerintah mampu menstabilkan keadaan secepat mungkin. Dia juga berharap bencana ini adalah yang terakhir kali.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments