in

Kala Jokowi Shalat di Lokasi Pengungsian

Inilah kisah pemimpin yang tak banyak bicara, tetapi sikap dan tindakannya akan menampar siapapun yang sering menyebarkan kabar bohong mengenai dirinya.

Selama ini, tak terhitung kita temui kabar dan berita bahwa Presiden Jokowi merupakan sosok pembenci agama tertentu. Dia disebut sebagai pemimpin yang anti-Islam, memusuhi ulama, dan membenci ajaran mulia ini.

Dalam satu tarikan napas, kita juga sering mendengar bahwa Jokowi adalah antek asing-aseng, pro-zionis, pembela komunis, dan tudingan sejenis lainnya.

Meski dituduh sedemikian rupa, tapi tak pernah kita jumpai Presiden marah. Tak pula kita dapati jawaban dari Jokowi sebagai bantahan. Dia lempeng saja, tetap bekerja.

Hingga suatu waktu, wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya di Lombok, dihantam oleh gempa yang cukup besar. Akibat guncangan lempeng bumi itu, ribuan bangunan roboh, jutaan masyarakat mengungsi, dan perekonomian lumpuh total. Semuanya porak poranda.

Di saat semua orang sedang berduka, Jokowi sebagaimana Presiden lainnya, datang untuk menemui rakyatnya. Di sinilah kita bisa lihat keteguhan hati dan nilai spritualitas yang luar biasa dari sosok Jokowi.

Sebagian besar cerita ini dituturkan oleh Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi.

Awalnya, Jokowi menggelar rapat di posko utama penanganan gempa Lombok. Lima menit setelah mendengar paparan tim, mantan Gubernur DKI itu memanggil TGB Kepadanya, Jokowi mengaku ingin menjenguk warga yang menjadi korban gempa.

“Beliau tengok saya lalu bilang, “Kita jenguk masyarakat saja, Tuan Guru”. Saya tanya, Pak Presiden mau jenguk di lokasi mana? Beliau jawab, terserah Tuan Guru. Lantas semua kalang kabut. Naik mobil, lalu turun di salah satu lokasi dekat pinggir selokan,” ucap TGB sebagaimana dilansir dari Liputan6.com, Selasa (14/8)

Di sana, Jokowi lalu menyempatkan diri berdialog dengan sejumlah warga yang rumahnya hancur karena gempa. Di lokasi pengungsian itu, apakah Presiden dijamu? Tidak. Apakah sebelumnya penduduk dikumpulkan dan diberikan briefing? Tentu saja,  tidak mungkin. Semuanya dilakukan secara alami tanpa persiapan sama sekali.

Bahkan, Jokowi pun turut duduk di tikar sebagaimana warga lainnya. Dalam ungkapannya itu, Jokowi berusaha membesarkan hati warga-warga di sana, sekaligus menguatkan semangatnya untuk bangkit. Dia meyakinkan warga bahwa pemerintah akan membantu penanganan bencana gempa bumi ini.

Saat berada di sebuah tenda pengungsi itu, Jokowi lalu mengajak rombongannya untuk salat Magrib terlebih dahulu.

“Datanglah waktu magrib, beliau (Jokowi) ajak kami salat. Saat itu ajudan beliau mengingatkan, Mushola tidak layak dan air minim untuk wudhu, namun beliau tetap berkeras. Jadilah, kami salat disitu,” ucap TGB.

Sebagai gambaran, shalat Maghrib itu digelar di bawah tenda yang dibangun seadanya. Sajadahnya juga tak banyak. Untuk mengganti sajadah, kain khas Lombok digelar untuk shaf jemaah.

Tenda tersebut juga didirikan dengan tiang-tiang dari bambu. Untuk penutupnya, dipasang ‘dinding’ yang dibuat dari plastik karung. Sebuah mushola yang seharusnya tak layak bagi seorang Presiden.

Ketika waktu salat akan dimulai, Jokowi lebih dulu menawarkan TGB menjadi imam. Namun, TGB berkilah dan mempersilahkan Jokowi memimpin salat. Hal itu dilakukan sebagai adab menghormati Jokowi sebagai tamu dan kepala negara.

“Tiga kali kali Pak Jokowi mempersilahkan saya jadi imam, “Ayo, Tuan Guru”. Saya minta beliau yang jadi imam. Menghormati tamu. Sekaligus ingin tahu bacaan salat sehari-hari beliau.

Jokowi lalu maju dan mulai mengimami. Maka terungkaplah bagaimana Jokowi melafalkan bacaan salat, ayat demi ayat.

“Ternyata bacaan beliau sangat terang. Rakaat pertama membaca surat Al-Humazah dan rakaat kedua membaca surat Al-Quraish,” ujar Mantan Gubernur NTB itu.

Sehabis shalat, Jokowi menutup zikir dengan bacaan, “Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna.” Bacaan itu dilanjutkan dengan doa Ashabul Kahfi, “Rabbana aatinaa min ladunka….” dan ditutup dengan doa sapu jagat.

Kita tahu, dalam rangkaian doa Presiden itu berisi permintaan ampun dan maaf kepada Allah, permohonan bimbingan dan rahmat-Nya, serta harapan untuk kebaikan bersama.

Dalam momen tersebut, tak banyak media yang mengikuti Presiden. Sehingga bisa dipastikan bukan sebuah pencitraan ataupun upaya menarik simpati masyarakat.

Begitu ademnya Presiden kita. Kisah ini sebagian besar dikisahkan oleh TGB Zainul Majdi dalam akun Facebooknya.

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments