in ,

Jokowi Diuji Bacaan Qur’an? Simak Pengakuan Tiga Ulama Ini

Jokowi, foto:rmoljabar.com

Setiap menjelang tahun politik, baik itu 2014 dan 2019, serangan terkait isu agama selalu dialamatkan kepada Joko Widodo. Ia sering dituding tidak cakap dalam beragama, bahkan dianggap memusuhi Islam.

Entah dari mana tudingan itu berasal, yang pasti tuduhan itu tak pernah berdiri di ruang hampa. Melainkan selalu terkait dengan panasnya kontestasi Pemilihan Presiden.

Dalam dua pertarungan itu, lawan Jokowi selalu sama, yakni Prabowo Subianto yang didukung oleh koalisi Gerindra, PKS, dan PAN, serta sekarang ditambah dengan Demokrat.

Anehnya, tudingan sesat seperti itu sebelumnya tak pernah mampir ke Jokowi ketika dirinya maju sebagai calon Walikota di Solo selama dua periode ataupun Gubernur di DKI Jakarta.

Padahal, Jokowi itu bukanlah makhluk halus yang ‘ujug-ujug’ ada, tetapi manusia yang memiliki rekam jejak panjang di dunia politik. Oleh karena itu, bisa diperiksa sepak terjangnya terkait dengan isu agama.

Berkaitan dengan itu, kita bisa menengok kesaksian para guru ‘ngaji’ Jokowi soal ini.

Calon presiden petahana itu diketahui pernah belajar membaca Alquran dengan metode Iqro’. Dua guru ngaji Jokowi di Sukoharjo dan Solo, memberikan kesaksian soal ini.

Kesaksian pertama diungkapkan oleh Ustaz Mudhakir, guru ngaji Jokowi yang mengajar Alquran dengan metode Iqro’.

“Insyaallah kalau seseorang belajar Iqro’ sampai jilid 5, akan mampu sebenarnya membaca Alquran. Tentu ketika seseorang belajar melalui metode Iqro’, harus ada tindak lanjutnya,” kata Ustaz Mudhakir, sebagaimana dilansir dari detik.com, Rabu (16/01).

Menurut pria yang kini menjadi tenaga pengajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Sukoharjo itu, bacaan Alquran Jokowi juga tepat. Jokowi bisa melafalkan setiap huruf Arab sesuai yang ada di buku Iqro’.

Kemudian, KH Abdul Karim Ahmad (Gus Karim), pengasuh Pondok Pesantren Al Quraniy Azzayadiy, juga memberikan kesaksian soal bacaan Alquran Jokowi. Gus Karim adalah guru ‘ngaji’ di pengajian Bening Ati yang diikuti Jokowi sejak 2001.

Di Majelis Bening Ati, Jokowi bersama sejumlah pengusaha muda Solo ketika itu antara lain belajar tentang zakat, sedekah, dan infak. “Yang mana ini kebutuhan seorang pengusaha supaya zakatnya benar, shodaqoh-nya benar, infaknya tidak salah tujuan,” tutur Gus Karim.

Di pengajian tersebut, sebelum dimulai, peserta secara bersama-sama membaca surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek. Gus Karim pun mennyaksikan sendiri bahwa bacaan Alquran Jokowi cukup bagus.

“Oh bagus, bagus. Fatihah, surat Al-Ikhlas, Al-Ashr, itu saya mendengar sendiri,” kata Gus Karim.

Tak hanya Al-Fatihah dan surat pendek, Gus Karim juga mendengar dan melihat langsung saat Jokowi membaca Alquran. Momen itu terjadi saat Gus Karim duduk di samping Jokowi dalam acara membaca surat Yasin, zikir, dan tahlil.

“Dia (Jokowi) duduk di sebelah saya, dia membaca surat yasin dan telinga saya juga mendengarkan. Itu berarti ya dia bisa membaca (Alquran),” kata Gus Karim.

Selain kesaksian dua guru ngaji tersebut, pengakuan atas lancarnya bacaan Al qur’an Jokowi juga datang dari Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi.

Kesaksian tersebut diberikan oleh mantan Gubernur NTB itu setelah dirinya menjadi makmum Jokowi ketika shalat Maghrib. Peristiwa ini terjadi ketika Presiden meninjau lokasi bencana Gempa Bumi di Lombok, NTB.

“Ternyata bacaan beliau sangat terang. Rakaat pertama membaca Surah Al-Humazah dan rakaat kedua membaca Surah Quraish,” ungkap TGB.

Sehabis salat, Jokowi menutup zikir dengan bacaan, “Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna.” Bacaan itu dilanjutkan dengan doa Ashabul Kahfi, “Rabbana aatinaa min ladunka….” dan ditutup dengan doa sapu jagat. Terakhir, mushafahah dengan jamaah.

Ketiga orang di atas adalah para ulama yang dekat dengan Jokowi. Mereka menyaksikan sendiri bacaan Qur’an Jokowi itu cukup baik dan lancar. Para ulama itu juga menjadi saksi bahwa Jokowi mengamalkan amalan wajib dengan baik.

Lantas, kita masih menuduhnya musuh Islam? Jangan-jangan pikiran kita yang bermasalah itu. Yakni, pikiran yang ditutupi oleh kabut kebencian sehingga tak mau menilai seseorang dengan baik sangka.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments