in

Jokowi dan Pesan Kerjasama di Kawasan dan Internasional

Berkali-kali dalam forum internasional, Presiden Republik Indonesia selalu mengajak negara di dunia untuk menciptakan tatanan ekonomi yang lebih terbuka, adil dan berorientasi kerja sama. Ini adalah upaya Indonesia untuk mewujudkan perdamaian di dunia, sekaligus kerjasama yang saling menguntungkan.

Dalam beberapa kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo ingin agar publik internasional lebih memperhatikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat dunia dibandingkan hanya mencari kemenangan semata.

Pesan itu disampaikan dalam konteks mengantisipasi kompetisi ekonomi yang makin tidak sehat, terutama karena adanya peningkatan ancaman perang dagang diantara negara adikuasa.

Seperti diketahui, perang dagang antara China dan Amerika Serikat telah menciptakan situasi perdagangan dunia semakin tidak menentu hari-hari ini, terutama dengan munculnya krisis keuangan, meningkatnya sentimen proteksionisme, dan anti globalisasi.

Hal ini sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan, karena dapat merusak sistem perdagangan multilateral, mengganggu pertumbuhan ekonomi kawasan dan nasional, dan mengakibatkan fluktuasi nilai tukar.

Untuk mengatasi situasi terebut, maka mekanisme kawasan seperti di Asean harus dipastikan berjalan baik. Pesan ini pula yang disampaikan Presiden Jokowi di dalam KTT Ke-21 ASEAN Plus Three di Suntec Convention Centre, Singapura, beberapa waktu lalu.

“Situasi ekonomi global berdampak serius bagi negara-negara di kawasan. Capital outflow yang besar mengakibatkan fluktuasi nilai tukar,” kata Jokowi.

Dalam forum tersebut, Presiden mengajak negara-negara anggota ASEAN beserta Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang untuk memperkuat kesepakatan Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM). Kesepatan CMIM ialah kesepakatan pertukaran mata uang multilateral yang melibatkan ASEAN dan Tiongkok, Korsel, dan Jepang.

Selain itu, aksi konkret harus dilakukan. Pertama, kita dengan meningkatkan kontribusi pada CMIM, sehingga dana bantuan yang cukup harus siap untuk membantu anggota yang membutuhkan.

Kedua, sambung Jokowi, operasionalisasi CMIM lebih implementatif, yakni harus tanggap membantu anggotanya yang terkena krisis. “Ketiga, saya mengusulkan agar kita tugasi menteri keuangan dan gubernur bank sentral untuk bahas peningkatan dana talangan menjadi dua kali lipat.” kata Jokowi.

Selain peningkatan kerjasama melalui CMIM, Presiden Jokowi juga mendorong perundingan kerja sama ekonomi regional komprehensif atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) secepatnya diselesaikan. Dalam forum ini, Indonesia menjadi koordinator untuk mempercepat realisasi dari RCEP tersebut.

Pesan dari Jokowi di Asean ini cukup bergaung. Substansi pesan tersebut memiliki dukungan yang sama dari negara-negara lainnya. Ini peran penting Indonesia di kawasan.

Peningkatan kerjasama antar-negara, alih-alih kompetisi yang tidak sehat, adalah kata kunci yang terus dibawakan oleh Presiden Jokowi dalam momentum pertemuan kepala negara, termasuk dalam KTT Asean kali ini. Sebelumnya, pesan yang sama seperti itu juga dibawakan Presiden Jokowi dalam pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali, bulan lalu.

Indonesia sebagai bagian dari G-20 (kelompok 20 negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar di dunia) mulai memainkan perannya dalam percaturan publik internasional. Suaranya mulai bergema, dan Presiden Jokowi dipandang sebagai pemimpin yang cukup disegani.

Seiring dengan itu pula, semangat gotong royong dan visi perdamaian abadi terus digelontorkan dalam wacana yang diungkapkan di tingkat global. Ini adalah pesan yang universal dan diinginkan oleh semuanya.

What do you think?

3 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments