in , ,

Jokowi dan Hilangnya Jarak Antara Presiden dengan Rakyat

Jokowi Berdesakan dengan Penumpang KRL, foto: tempo.co

Joko Widodo memang bukanlah presiden biasa-biasa saja. Dia sosok yang berkarakter dan berhasil membawa standar baru dalam kualitas kepemimpinan di Indonesia.

Betapa tidak, baru-baru ini Presiden Jokowi membuat heboh jagat media sosial di Indonesia. Secara mengejutkan Jokowi tiba-tiba naik KRL Commuterline jurusan Jakarta-Bogor, pada Rabu (6/3).

Momen itu terjadi ketika Jokowi hendak pulang ke Bogor setelah seharian bekerja. Tercatat Jokowi menaiki KRL dengan rute Stasiun Tanjung Barat hingga Bogor.

Di KRL itu, Jokowi tidak tampak sebagaimana presiden pada umumnya. Dia juga berdiri sebagaimana penumpang lainnya, dan tentunya berdesak-desakan. Selain itu, Jokowi juga hampir tanpa pengawalan sama sekali.

Bahkan, katanya untuk bergerak 1 cm pun sangat susah. Ia baru merasa longgar ketika banyak penumpang yang turun di Depok. Itu pun, Jokowi masih berdiri hingga stasiun Bogor.

“Mau bergerak saja tidak bisa, terutama yang dari Jakarta ke Depok itu, mau bergerak saja tidak bisa,” kata Jokowi menjawab pertanyaan wartawan setelah meresmikan Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar di Gerbang Tol Natar, Lampung, Jumat (8/3).

Presiden Jokowi pun mengungkapkan alasannya pulang ke Bogor pada jam padat dengan naik kereta rel listrik itu. “Ada yang menyampaikan pada saya, Pak, kalau mau coba KRL itu naik jam 6 sampai jam 8 kalau pagi, kalau sore jam 4 sampai jam 6. Itu dadakan saja,” kata Jokowi.

Usulan tersebut juga didapatkan ketika menghadiri sebuah kegiatan di kawasan Jakarta Selatan. Usai menghadiri kegiatan itu, Jokowi pun memutuskan naik KRL dari Stasiun Tanjung Barat.

“Tujuannya ya untuk melihat kondisi yang sebenarnya dan kita betul-betul merasakan kondisi sebenarnya. Mau bergerak saja enggak bisa. Terutama yang dari Jakarta ke Depok, itu mau bergerak saja enggak bisa,” katanya.

Keren, kan?

Seturut catatan sejarah baru kali ini seorang presiden Indonesia bersedia naik transportasi publik ketika pulang kerja. Apalagi dia juga ikut berdesak-desakan. Hal ini tentu saja melengkapi kegiatan “blusukan” yang kerap dilakukan Jokowi.

Pertanyaannya, apakah tindakan Jokowi yang begitu dekat dengan rakyat itu tidak membahayakan keamanan pribadinya? Pasalnya, di tengah kerumunan seperti itu resiko keamanan sangat tinggi.

Apalagi, ketika naik KRL itu Jokowi terlihat tanpa pengawalan sama sekali. Ia hanya ditemani oleh Komandan Paspampres saja.

Tentu saja, kalau kita berpikir secara Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan Presiden, apa yang dilakukan Jokowi ini dapat dikategorikan “tidak aman”. Kemungkinan buruk bisa saja terjadi ketika di dalam KRL.

Tetapi bagi Jokowi, rakyat tak perlu dicurigai berlebihan seperti itu. Sebaliknya, Jokowi justru merasa aman ketika berada di tengah massa.

Bersama rakyat, Presiden akan tenang. Karena dia dilindungi oleh kekuatan terbesar dalam Republik ini. Mungkin seperti itulah alam pikiran Jokowi.

Pengandaian itu masuk akal, sebab Jokowi sendiri pada dasarnya tumbuh dari rakyat biasa. Ia juga masih berkelakuan sebagaimana warga biasa hingga saat ini, yang sederhana dan apa adanya. Lantas mengapa harus takut bersentuhan dengan rakyat?

Bukankah bila seorang presiden rakyat itu justru akan merasa nyaman dan aman bila bersama orang-orang biasa? Ia justru bersama orang-orang yang setiap waktu dipikirkannya.

Sikap Jokowi ini mungkin dianggap remeh, tetapi membawa kesadaran baru di hadapan rakyat. Bahwa pemimpin terbaik bagi rakyat Indonesia ke depan harus melupakan jarak bila berhadapan dengan warga biasa.

Ia tak boleh berjarak, bahkan barang sejengkal pun. Untuk itu, kita berjasa kepada orang yang bernama Jokowi ini.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments