in , , ,

Hoax Harga Beras dan Daging, Prabowo Memainkan Teknik Semburan Dusta

Prabowo, foto:cnnindonesia.com

Lagi-lagi, pernyataan dengan data yang salah dilemparkan oleh calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Kali ini terkait dengan harga-harga pangan di Indonesia.

Awalnya, Prabowo Subianto melakukan kunjungan dalam rangka kampanye pemilihan presiden 2019 di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (14/2/2019).

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu menyinggung harga komoditas strategis Indonesia seperti beras, daging sapi, dan daging ayam, yang diklaim termahal di dunia.

“Beras di Indonesia jadi salah satu tertinggi di dunia. Demikian daging juga tertinggi di dunia. Daging ayam tertinggi di dunia. Salah satu yang tertinggi di dunia. Perjuangan kami adalah untuk kita perbaiki keadaan ini dengan segera,” kata Prabowo dikutip dari detikcom.

Selain terkait pangan, Prabowo kembali menyinggung telah terjadi kebocoran kekayaan negara. Kekayaan itu terus mengalir ke luar negeri sehingga menimbulkan dampak negatif.

“Ya ujungnya ambruk. Karena itu kita tidak ada uang di Indonesia. Gaji selalu kecil, pekerjaan selalu tidak ada. Lah uangnya dibawa keluar, yang ada sisa, sisa upah minimum,” kata Prabowo menjelaskan.

Benarkah pernyataan Prabowo di atas? Mari kita cek datanya.

Prabowo Salah Data

Bila kita periksa data lebih lanjut, apa yang diungkapkan oleh Prabowo Subianto di atas sebenarnya tak benar. Harga beras dan daging di Indonesia bukanlah yang tertinggi di dunia.

Harga beras Indonesia berada di urutan 80 di dunia, yaitu Rp 12.000/kg. Beras paling mahal tercatat di Jepang lantaran mencapai Rp 59.000/kg.

Harga beras Indonesia hanya sedikit lebih mahal daripada Polandia, Vietnam, Nepal, Kazakhstan, dan negara-negara lain. Di Asia Tenggara, menurut dia, harga beras RI masih lebih rendah dibandingkan Thailand.

Pun dengan harga daging. Tudingan Prabowo itu jelas keliru. Sebab, dalam daftar harga daging di dunia, Indonesia berada di urutan 49 dari 89 negara.

Dengan demikian di atasnya ada 48 negara yang lebih mahal. Harga daging termahal di Swiss karena mencapai Rp 675.000/kg.

Jadi bila menyebut harga beras dan daging Indonesia itu mahal, maka perlu dipertanyakan kepadanya, “beras dan daging jenis apa?” Juga, “mahal dari mana?’

Pernyataan Prabowo itu jelas merugikan pelaku usaha. Karena isu negatif itu bisa memberikaan sentimen negatif pada pasar dalam negeri.

Ketua Kelompok Kerja Pangan Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) Benny Pasaribu juga membantah pernyataan Prabowo. Benny yang juga Sekjen Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mempertanyakan validitas data.

Benny berharap Prabowo berhenti melakukan upaya-upaya yang justru menggelisahkan masyarakat. Apalagi sebagai sosok yang pernah lama berkecimpung di HKTI, ketua umum Partai Gerindra tersebut pasti bisa membedakan mana data valid dan tidak valid.

“Pernyataan Pak Prabowo ini tidak elok karena menjurus pada fitnah dan hoaks. Selain itu, masyarakat dan pedagang bisa bingung. Para petani gelisah karena merasa disalahkan sebagai biang kerok harga beras jadi termahal dunia sedangkan masyarakat sebagai pembeli bisa panik karena kebutuhan sembako keluarga bakal sangat terganggu,” ujar Benny sebagaimana dilansir dari cnbcIndonesia.com.

Teknik Semburan Dusta (Lagi)

Bila mendengar pernyataan Prabowo di atas, ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Pilihannya cuma dua, antara mau bergaya populis kanan dengan data bombastis (tapi bohong) dengan tujuan mendiskreditkan lawan politik, atau memang tim kampanye-nya itu tidak paham permasalahan sehingga membisikkan data yang ‘ngaco’.

Bila itu yang kedua, sepertinya tak mungkin. Karena Prabowo sendiri dikelilingi oleh ekonom-ekonom yang tidak kalah pintar. Ada Rizal Ramli, Sudirman Said, Fuad Bawazier dan Sandiaga Uno yang notabene orang-orang kompeten di bidang bisnis dan ekonomi.

Dengan demikian, kemungkinan paling besar adalah pilihan yang pertama. Prabowo dan tim suksesnya memang secara sengaja menyebarkan data palsu untuk menyudutkan lawan politiknya.

Yang menjadi masalah adalah teknik menyudutkan lawan itu menggunakan data palsu yang mengandung kebohongan (hoax). Apalagi dilakukan dengan cara yang intens dan tingkat repetisi yang tinggi.

Inilah teknik kampanye tertentu yang disebut sebagai propaganda Rusia atau semburan dusta (firehose of falsehood).

Firehose Of Falsehood adalah sebuah teknik “Propaganda Rusia” (ingat, bukan merujuk ke negara, tetapi sebuah istilah) yang mempunyai 2 karakteristik, yaitu adanya tingkat pesan atau informasi dalam jumlah yang sangat tinggi; dan penyebaran informasi yang salah atau hanya sebagian benar, atau bahkan berupa fiksi.

Jika diibaratkan, hoax itu produksi revolusi industri 3.0, maka Firehose of Falsehood (FoF) ini adalah hasil revolusi industri 4.0. Kenapa? Karena FoF manfaatkan ilmu komunikasi berdasarkan “neuroscience” dan “big data”.

Propaganda “Firehose of Falsehood” mempunyai 4 strategi utama, yaitu: 1. Kontroversi dan provokasi yang massif dengan sumber berita yang beragam, 2. Repetisi pesan yang cepat dan konsisten, 3. Mengabaikan data dan fakta dan 4. Isi pesan yang inkonsisten atas substansi.

Tujuannya secara psikologis adalah untuk mengaktifkan dan mengisi “reptilian brain” individu secara massal dengan “fear” atau ketakutan.

Sederhananya, jika seekor kucing yang lucu jika dicitrakan terus menerus dikatakan sebagai harimau yang kejam dan buas, lama kelamaan orang akan percaya bahwa kucing lucu itu adalah harimau yang kejam dan buas sehingga dapat dijadikan ancaman bersama yang harus disingkirkan, terutama bagi mereka yang tingkat literasinya rendah adalah sasaran utama strategi FoF.

Melihat ciri-ciri di atas, semuanya melekat pada Prabowo dengan segala kontroversinya. Kasus kebohongan mengenai harga beras dan daging itu merupakan salah satu wujudnya.

Isu itu memang bohong, tetapi disebarluaskan secara masif dan berulang, sehingga membuat masyarakat percaya dan merasa ketakutan. Akibatnya menyalahkan pemerintahan Presiden Jokowi dan tim 02 berusaha merebut suaranya.

Teknik kampanye yang “indah”, bukan? Tetapi jelas merusak akal sehat dan berpotensi mengadu domba masyarakat.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments