in

Hijrah dan Perkembangan Pesat Ekonomi Digital di Tangan Milenial

Dengan jumlah populasi yang besar, Indonesia mengalami laju pertumbuhan ekonomi digital yang tinggi. Hal ini ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan startup yang valuasinya bahkan di atas US$ 1 miliar atau disebut sebagai unicorn

Perusahaan-perusahaan tersebut berserak di sektor transportasi online, e-commerce, fintech, hingga agen travel. Perusahaan startup ini membawa potensi ekonomi yang tak main-main, bahkan diprediksi ‘ekonomi digital’ ini akan menjadi tulang punggung perekonomian di masa depan.

Selain itu, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital juga ditandai dengan melonjaknya transaksi online. Termasuk pelaku perbankan yang mulai bergeser berebut pangsa yang masih sangat besar, seiring dengan tingginya penetrasi internet dan gadget.

Menariknya, hampir semua pelaku industri dalam sektor ekonomi digital ini adalah anak-anak muda. Generasi milenial menjadi eksponen utama dari perkembangan perusahaan startup dan ekonomi digital di Indonesia.

Dengan segala daya kreatifnya, plus ditambah semangat kolaborasi yang kuat, anak-anak muda di Indonesia mampu mewujudkan mimpinya untuk mendorong perubahan positif, melalui kerja nyata dari kaki dan tangan mereka sendiri. Inilah makna hijrah yang sesungguhnya.

Anak Muda dan Ekonomi Digital

Bisnis rintisan yang berbasis teknologi (start-up) di Indonesia berkembang pesat kiwari ini. Bahkan, beberapa di antaranya termasuk dalam jajaran ‘Unicorn’, yakni start up dengan valuasi di atas US$1 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. Hingga kini terdapat 4 perusahaan startup asal Indonesia yang bergelar ‘unicorn’.

Gojek merupakan startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar “Unicorn”. Perusahaan rintisan Nadiem Makarin ini berdiri pada 2010, dan memantapkan diri sebagai “Unicorn” tepat pada 4 Agustus 2016 lalu, setelah menerima pendanaan senilai $550 juta dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug.

Investasi ke Gojek pun berlanjut. Pada 4 Mei 2017, Gojek kemudian memperoleh suntikan dana tambahan senilai $1,2 miliar dari Tencent Holding dan JD.com. Ini membuat total pendanaan yang sukses diraih Gojek berada di angka $1,75 miliar, yang merupakan nilai tertinggi di antara empat “Unicorn” Indonesia.

Perusahaan startup kedua asal Indonesia yang menjadi “Unicorn” ialah Tokopedia. Perusahaan ini lahir dibidani oleh William Tanuwijaya pada tahun 2009 lalu. Tokopedia masuk ke tataran unicorn setelah memperoleh penyertaan investasi senilai US$1,2 miliar (Rp 15 triliun) dari Alibaba pada 17 Agustus 2017.

Menurut data yang dijabarkan dari Crunchbase mengungkapkan bahwa layanan online market place tersebut, kini secara keseluruhan telah memperoleh pendanaan senilai $1,347 miliar.

Startup Indonesia ketiga yang menjadi “Unicorn” ialah Traveloka. Layanan penjualan tiket online itu didirikan oleh Ferry Unardi dan dua temannya pada 2012. Traveloka menyandang gelar “Unicorn” selepas Expedia, layanan sejenis yang populer di luar negeri, mengucurkan dana senilai $350 juta pada 27 Juli 2017 lalu. Ini membuat Traveloka total telah memperoleh pendanaan sebesar $500 juta.

Bukalapak bergabung dengan jajaran unicorn asal Indonesia mulai akhir tahun 2017 lalu. Grup media terbesar kedua di Indonesia, Emtek, merupakan salah satu penanam modal di marketplace ini.

Selain itu, dua perusahaan ventura asal AS, 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, juga menanamkan modalnya di Bukalapak dengan angka yang tidak dipublikasikan. CEO Bukalapak Achmad Zaky mengklaim, kinerja bisnis yang dirintisnya ini makin kinclong pada 2017 lalu, dengan pertumbuhan transaksi mencapai 3-4 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Hingga kini, startup-startup besutan anak muda terkaya di Indonesia tersebut tidak luput dari incaran investor. Tidak mengherankan, startup-startup tersebut berhasil mengantarkan para pendirinya ke jajaran orang terkaya di Indonesia. Empat bos startup yang muncul sebagai orang terkaya di Indonesia merupakan pemain baru dalam jajaran 150 orang terkaya versi Majalah Globe Asia 2018.

Para pendiri start up tersebut berumur tak lebih dari 40 tahun. Bahkan rata-rata masih berusia 30-an tahun. Misalnya, Ferry Unadi, CEO Traveloka masih berusia 30 tahun. Dan, memulai bisnisnya pada usia 24 tahun.

Ahmad Zaky tahun ini baru menginjak usia 32 tahun. Nadiem Makarim berusia 34 tahun. Sedangkan yang paling tua adalah Wiliam Tanuwidjaya yang berumur 37 tahun.

Meski masih muda, karya anak-anak muda Indonesia ini membawa dampak yang luar biasa. Perusahaan mereka mampu menggerakan investasi di Indonesia juga membuka peluang dan potensi baru di kemudian hari.

Peluang, Potensi dan Peran Pemerintah dalam Perkembangan Ekonomi Digital

Rentang 10-15 tahun mendatang Indonesia sedang memasuki masa transisi ekonomi digital. Potensi ekonomi digital Indonesia sendiri saat ini sangat luar biasa karena penetrasi seluler 142 persen, internet 54 persen, penduduk muda 30-an persen dan 90 persen diantaranya adalah pengguna aktif.

 

Ceruk pasar yang besar ini mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang cukup signifikan. Menurut data statistik, rata-rata pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan mencapai 18,5 persen.

Pada tahun 2017 saja, Praktik e-commerce dalam bentuk iklan jual-beli, retail, hingga mal online menanjak cepat. Pada tahun itu nilai transaksinya diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail.

Transaksi melalui teknologi finansial atau fintech menyentuh Rp 252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Sedangkan e-travel, yang diwakili bisnis mobilitas dan perjalanan, menyumbang Rp 105,798 triliun pada tahun ini.

Sedangkan pada tahun 2020 nanti, volume bisnis e-commerce di Indonesia diprediksi akan mencapai US$ 130 miliar dengan angka pertumbuhan per tahun sekitar 50%. Sedangkan, McKinsey memprediksii, ekonomi digital diproyeksikan menyumbang 150 miliar dolar AS terhadap PDB Indonesia pada 2025 mendatang.

Selain itu, hadirnya ekonomi digital menciptakan jenis pekerjaan baru. Perkembangan teknologi pada e-commerce yang berkaitan permintaan pelayanan dapat memudahkan manusia berinteraksi dan bertransaksi dalam marketplace.

Melihat perkembangan yang positif seperti itu, pemerintahan Presiden Jokowi pun cepat tanggap dan mendukung setiap pelaku ekonomi digital. Presiden Joko Widodo mendorong pertumbuhan perusahaan ” unicorn” di Indonesia.

“Potensi pasar yang sangat besar ini tidak boleh ditinggal begitu saja. Saya yakin potensi itu akan bisa menjadi fondasi bagi Indonesia untuk menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” ujar Jokowi dalam rapat terbatas pengembangan ekonomi digital di Istana Negara, Jakarta, dua tahun lalu.

Selain itu, Presiden Jokowi juga meminta ekonomi digital ini dapat membawa manfaat bagi rakyat, khususnya UMKM dan para pelaku bisnis pemula atau start up.

“Kita harus bisa membangun channel antara sistem platform logistik dunia, dengan produk-produk yang berada di kampung-kampung, yang berada di desa-desa. Saya minta pelaku bisnis pemula atau startup diprioritaskan dan difasilitasi untuk mendapatkan akses permodalan agar usahanya bisa tumbuh dan berkelanjutan,” imbuh presiden.

Hal itu selaras dengan langkah kebijakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang menargetkan lima startup unicorn asal Indonesia di tahun depan. Apabila harapan tersebut terealisasi, maka Indonesia memiliki sembilan startup unicorn dan gross domestic product (GDP) Indonesia bisa mencapai 11 persen.

Menurut Rudiantara, pemerintah memiliki peran penting untuk mendorong startup dalam mewujudkan ekonomi digital. Ia juga mengaku bila Kominfo bukan lagi berperan sebagai regulator tetapi juga akselerator untuk mendongkrak perkembangan ekonomi digital.

Sebagai dukungan peran fasilitator pengembangan ekonomi digital, Rudiantara mengaku terus membangun infrastruktur akses jaringan internet sebagai tulang punggung di daerah, serta memberikan sarana kepada operator yang ingin membangun menara BTS (base transceiver station). Infrastruktur ini adalah prasyarat dari realisasi pertumbuhan ekonomi digital di atas.

Sejak dua tahun lalu, Kemenkominfo telah menggagas Gerakan 1.000 Startup Digital. Gerakan tersebut diharapkan bisa menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia. Pada 2020, pemerintah menginginkan ada 1.000 pelaku startup yang ikut mendongkrak perekonomian nasional, selaras dengan Nawacita.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut Pemerintah berkomitmen memperkuat ekosistem e-commerce dan ekonomi kreatif seiring dengan penyiapan regulasi yang sesuai pasar.

Hijrah Anak Muda, Potensi Masa Depan Indonesia

Geliat dinamis ekonomi digital yang didorong oleh perusahaan rintisan dari generasi milenial ini merupakan wujud teladan yang nyata bagi kita. Anak-anak muda ini adalah wajah optimisme bangsa Indonesia.

Dalam suasana yang gaduh oleh politik kebencian, kenyataannya masih banyak anak bangsa yang menunjukkan kreativitas, inovasi tak henti-henti, dan kolaborasi dalam menghasilkan karya bersama.

Inilah esensi ‘hijrah’ sebagaimana yang diajukan oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Bahwa anak muda harus mampu membawa perubahan yang positif pada bangsa Indonesia. Sebab, generasi milenial memiliki daya kreatif dan kolaborasi yang baik.

Dari sinilah ungkapan hijrah dari pesimisme menjadi optimisme bisa terwujud. Dengan begitu juga akan beriringan dengan hijrah bangsa Indonesia dari konsumtif menjadi lebih produktif.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments