in , , ,

Fadli Zon, dkk: Miskin Ide dan Gagasan, Kaya Komentar Negatif

Fadli Zon, foto: cnnindonesia.com

Di acara Konvensi Rakyat, Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo, mengenalkan tiga kartu baru yang akan menjadi programnya saat terpilih kembali di Pilpres 2019 nanti. Ketiga kartu tersebut, yakni Kartu Prakerja, Kartu Indonesia Pintar (KIP) hingga kuliah, dan Kartu Sembako.

Adanya kartu baru itu tidaklah berdiri sendiri. Program tersebut ditujukan untuk melengkapi program sebelumnya. Dengan begitu, manfaat yang diterima masyarakat bisa lebih besar.

Seperti misalnya, Kartu Indonesia Pintar (KIP) hingga kuliah merupakan kelanjutan dari program KIP sebelumnya, yang hanya mencakup sampai SMA/SMK. Begitu juga dengan program kartu sembako untuk melengkapi program PKH dan Rastra.

Tak hanya itu, program 3 kartu baru di atas juga sekaligus menunjukkan arah pembangunan Jokowi dalam lima tahun mendatang. Setelah pada periode pertama fokus menggarap infrastruktur, pada periode kedua nanti pemerintahan Jokowi akan mengutamakan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Nalar Cekak, Tak Sanggup Mengejar

Bila dalam kredonya Pemilu merupakan ajang untuk menguji gagasan dan kontestasi ide untuk memajukan kehidupan rakyat. Ternyata tak begitu di benak para oposan saat ini.

Anehnya, para pendukung oposisi itu terkesan tak mau menunjukkan gagasannya (entah tak mau atau tak mampu), tetapi justru sangat sibuk mengomentari gagasan dan program lawannya.

Hal ini terlihat secara vulgar dari komentar Fadli Zon ketika mengomentari 3 kartu baru Jokowi di atas. Katanya, Presiden Jokowi sedang menerapkan jurus mabuk terkait janji program baru dalam bentuk tiga kartu.

“Jadi, ini menurut saya adalah jurus mabuk gitu ya,” kata Fadli di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (26/2).

Fadli mengatakan jurus Jokowi untuk mengeluarkan tiga kartu itu jelang pilpres bukanlah tanpa alasan. Hal itu karena posisi elektabilitas mantan Wali Kota Solo itu mangkrak dalam beberapa survei terakhir.

Entah apa maksud Fadli Zon mengatakan demikian. Tetapi hal itu terdengar aneh bagi publik. Narasi kontestasi jadi hilang karena oposan mengeluarkan kalimat dangkal seperti itu.

Saat lawan politiknya menawarkan gagasan atau program, dia bukannya menawarkan gagasan alternatif lainnya yang lebih maju. Atau, men-challange sebuah gagasan dengan gagasan yang seimbang.

Tetapi, yang dilakukannya justru hanya sekadar mendiskreditkannya. Tanpa program lain sebagai pembanding.

Padahal, jujur saja, hingga sekarang kita jarang sekali mendengar gagasan dan program dari kubu Prabowo-Sandi bila terpilih nanti. Visi-misi mereka pun juga mirip-mirip dengan pemerintah petahana.

Mereka terlihat hanya mampu melakukan imitasi. Lantas, untuk apa mereka sok-sokan menjadi oposisi?

Itulah ironisnya kelompok oposisi di Indonesia. Mereka tak mampu menawarkan gagasan lain, tetapi hanya sibuk berkomentar negatif tanpa narasi yang jernih. Apalagi dengan program yang konkret.

Gagalnya beroposisi dengan baik itu mendorong gelombang hoaks, fitnah dan politisasi SARA semakin masif. Sebab, mereka tak mampu berkontestasi dengan sehat, namun ambisi kuasanya sudah sampai ubun-ubun.

Semua itu, tak lain hanya menunjukkan nalar cekak dari kubu Prabowo-Sandi yang tak mampu mengejar laju pemerintahaan Jokowi, baik dari segi gagasan maupun program. Di sini, penilaian publik akan menjadi penghakiman kepada mereka di kotak suara kelak.

Lebih Baik Jurus Mabuk daripada Hanya Sekadar Puisi Busuk

Bila diamati, komentar Fadli Zon tersebut agak lucu juga. Ia menuduh Presiden Jokowi sedang menjalankan jurus mabuk. Entah imajinasi atau nalar dari mana seorang pentolan oposisi seperti dia bisa mengatakan demikian.

Tetapi, bagaimanapun hal itu justru sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang hanya mampu mabok-mabokan saja, tanpa mengeluarkan jurus apapun. Dan itulah Fadli Zon, dkk itu.

Apalagi Fadli Zon selama hanya ini juga tak mampu menawarkan terobosan apapun selama memimpin dewan perwakilan rakyat. Satu-satunya prestasi yang patut dibanggakannya adalah membuat puisi!

Ya, sebuah puisi yang absurd itu. Yang hanya mampu menghina ulama, dan menurut A.S Laksana, kualitaasnya buruk.

Kalau dipikir-pikir, protes Fadli Zon terhadap janji Jokowi itu terkesan bahwa dia tidak menginginkan rakyat hidup sejahtera. Karena dia tak mau mengakui kebutuhan dan kemendesakan adanya program tersebut.

Hal inilah yang disampaikan oleh Ketua Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) sekaligus Direktur Milenial Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Bahlil Lahadalia.

“Berarti Fadli Zon tidak setuju untuk ada beasiswa anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah dan kuliahnya. Pak Fadli Zon tidak setuju untuk kemudian orang selesai kuliah belum ada kerja terima pendapatan, terus dia enggak setuju kalau pemerintah ikut intervensi harga-harga barang mahal,” jelasnya.

Bahlil menyayangkan sikap Fadli yang menyebut janji Jokowi mengeluarkan kartu KIP Kuliah, Kartu Sembako, dan Kartu Pra-Kerja merupakan bagian dari “jurus mabuk”. Padahal, Jokowi merilis program itu semata-mata untuk mensejahterakan rakyat.

Melihat kelakuan oposisi seperti itu kadang memang membuat sakit hati. Mereka hanya mempermainkan kuasa tanpa tahu sedikitpun untuk apa kekuasaan itu.

Oleh karenanya, kembali ke nalar sehat adalah sebuah pilihan logis. Jangan biarkan orang-orang seperti itu mendapatkan ruang untuk mewakili rakyat di gedung parlemen.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments