in , ,

Efek Puisi Fadli Zon, Suara NU Makin Jauh dari Sisi Prabowo-Sandi

Fadli Zon, foto:cnnindonesia.com

Beberapa waktu lalu, polemik doa KH. Maimoen Zubair menjadi pembicaraan publik secara luas. Hal itu kemudian direspon oleh Fadli Zon dengan sebuah puisi.

Namun, respon Fadli Zon itu dianggap keterlaluan. Sebab, isi dari puisi itu banyak mengandung penghinaan kepada tokoh ulama yang sudah sepuh.

Dalam puisi yang berjudul “Doa yang Ditukar” itu Fadli menyindir Mbah Moen (sapaan akrab KH. Maimoen Zubair) sebagai begal doa, bahkan ada kalimat yang menyebut ‘makelar’ doa.

Hal itu tega dilakukan oleh Fadli Zon hanya karena Mbah Moen mendoakan lawan politik.

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu Mbah Moen memang telah menyatakan sikap politiknya di Pilpres 2019 ini. Kiai kharismatik itu memutuskan untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Tak hanya mendukung, Kiai Maimoen Zubair juga mendoakan Jokowi dan Ma’ruf Amin agar terpilih. Meskipun dalam doa itu ada sedikit kesalahan penyebutan nama capres. Alhasil, Mbah Moen memberikan klarifikasi setelahnya.

Karena peristiwa itu, Fadli Zon kemudian membuat puisi yang mempermainkan doa Kiai Maimoen Zubair, yakni dengan memotong dan membuat meme, serta cuitan yang merendahkan martabat Kiai Maimoen Zubair.

Tindakan Fadli Zon itu dianggap berlebihan, hingga sejumlah tokoh bersuara. Bahkan putri Gus Dur Alissa Wahid sempat mempertanyakan kata-kata “Kau” yang dimaksud oleh Wakil Ketua Umum Gerindra ini.

Namun, tak hanya itu saja Fadli Zon menghina Kiai NU. Sebelumnya, Fadli Zon juga pernah menghina Katib Aam PBNU, Yahya Cholil Staquf, saat dirinya menjadi pembicara di Israel.

Penghinaaan Fadli Zon itu sempat berbuntut panjang. Pasalnya, membuat Wasekjen Gerindra, Muhammad Nuruzzaman memutuskan hengkang dari Partai Gerindra karena tidak terima kiainya dihina Fadli Zon.

Dengan penghinaan yang berulang seperti itu, Fadli Zon telah melukai hati warga NU. Terlebih penghinaan terhadap Kiai NU dilakukan berulang dan tampak disengaja.

Sikap ketus Fadli Zon kepada para Kiai NU itu tentu saja tak akan dianggap remeh oleh warga NU. Jutaan warga NU akan menghukum dia dan partainya, berikut dengan capres-cawapres yang diusungnya, dalam Pemilu 2019 mendatang.

Jumlah suara NU yang mencapai jutaan akan serentak menarik dukungan kepada Gerindra dan Prabowo-Sandi. Puisi Fadli Zon telah nyata menjauhkan massa NU dari Prabowo-Sandi.

Peristiwa itu juga sekaligus mempertebal garis marka yang memisahkan jamaah NU dengan kelompok pendukung Gerindra.

Meski sama-sama Islam, namun diantara keduanya terlihat berbeda. Bila jamaah NU menginginkan Islam yang ramah dan moderat, tidak dengan kelompok Islam di barisan Gerindra dan Prabowo-Sandi.

Mereka adalah gerombolan umat Islam yang gemar menebar kebencian, provokasi, dan mengumbar syahwat politik atas nama agama. Aksi berjilid beberapa waktu lalu adalah bukti sahihnya.

Kasus puisi Fadli Zon di atas juga mencerminkan sikap penulisnya dan Gerindra yang pada dasarnya tidak benar-benar mencintai Ulama. Label membela Ulama dan Umat Islam yang selama ini sering diproklamirkan Gerindra itu sebenarnya hanya kamuflase untuk menarik simpati umat Islam saja.

Mereka hanya mementingkan suara dan ambisi berkuasa, tetapi tidak memiliki sikap takdzim kepada ulama dan kiai.

Itulah bila manusia hanya diliputi oleh nafsu duniawi saja, ulama hanya sebagai hiasan kuasa.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments