in , ,

Deklarasi Anti Hoax dan Posisi Keberpihakan Kita

Jokowi & Ribuan Aktivis Muslimat NU, foto: Twitter.com

Peringatan Hari Lahir Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) ke-73 berlangsung sangat meriah. Ratusan ribu anggota organisasi massa perempuan ‘underbow’ NU itu memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Minggu (27/01).

Menariknya, dalam acara tersebut Muslimat NU juga menggelar deklarasi anti hoax, fitnah, dan ghibah. Ada sekitar 120.000 kader yang berdiri bersama-sama membacakan teks deklarasi tersebut. Mungkin inilah deklarasi anti-hoax terbesar dalam sejarah Republik Indonesia.

Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa pihaknya menginisiasi adanya deklarasi anti hoax itu bukan tanpa alasan. Mereka sengaja menggelar deklarasi tersebut agar masyarakat sadar dampak dan bahayanya.

“Kalau anti hoax, anti ujaran kebencian itu kan sanksinya di UU ITE. Tapi kalau ditambah lagi anti fitnah anti ghibah, ghibah itu bergunjing. Itu artinya ada sanksi yang bersifat spiritual,” kata Gubernur Jawa Timur terpilih itu, sebagaimana dilansir dari beritasatu.com, Minggu (27/01).

Oleh karena itu, Khofifah berharap semuanya bisa membangun diri secara produktif dan pola pikir yang konstruktif.

“Oleh karena itu kami berharap kita semuanya membangun diri secara produktif, pola pikir kita juga pola pikir konstruktif dan pola pikir positif. Saya rasa itu akan menjadi bagian dari pondasi untuk menjadi bangsa yang besar kokoh kuat dan berkemajuan,” lanjutnya.

Adanya deklarasi tersebut merupakan pernyataan perang yang ‘keras’ dari Muslimat NU atas merebaknya berita bohong atau hoax yang makin menjadi-jadi belakangan ini. Sekaligus kontekstual dengan kondisi bangsa Indonesia hari ini.

Kita tahu, kondisi politik kiwari banyak dipenuhi dengan penyebaran fitnah, informasi hoax dan ujaran kebencian. Misalnya, hoax negara punah, fitnah Jokowi PKI dan isu TKA China, hoax 7 juta surat suara tercoblos, hingga mega hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Selain itu, adanya deklarasi anti-hoax ini juga merupakan ajakan yang tegas dari Muslimat NU kepada warga Indonesia untuk senantiasa menjaga kewarasan dan akal sehat di tengah iklim politik yang makin tidak sehat.

Menanggapi itu, Presiden Joko Widodo juga sangat mendukung dan mengapresiasi inisiatif dari Muslimat NU ini. Presiden menilai hal itu sebagai gerakan perlawanan yang baik.

“Ini bagus sekali kalau semua elemen, semua ormas, seluruh kelompok-kelompok yang ada di daerah di tanah air semuanya menyatakan anti-hoax. Saya kira ini sebuah perlawanan terhadap banyaknya hoax yang ada di media sosial,” kata Presiden Joko Widodo

Lebih dari itu, calon presiden nomor urut 01 itu sangat mengapresiasi semangat Islam moderat yang digaungkan oleh Muslimat NU. Terlebih Muslimat NU disebut memiliki kader yang jumlahnya besar sekali, sehingga bisa menularkan semangat Islam yang penuh dengan toleransi dan saling menghormati.

“Dan kita ingin Islam moderat, moderasi Islam, terus digaungkan. Tadi sudah disampaikan oleh ibu Ketua Umum Ibu Khofifah Indar Parawansa bahwa Islam yang Aswaja yang penuh toleransi, yang penuh dengan moderasi, yang saling menghargai, saling menghormati, itulah semangat yang disampaikan oleh Muslimat NU,” kata Jokowi.

Bagi kita yang waras, apa yang digagas oleh Muslimat NU ini sungguh baik dan patut diapresiasi Apalagi, bila kita masih berkeinginan agar Indonesia Maju.

Yang lebih penting lagi, dukungan kita pada deklarasi tersebut akan menunjukan sikap keberpihakan yang jelas. Apakah kita mendukung hoax demi kekuasaan, atau menolaknya demi kemajuan Indonesia dan kebaikan anak cucu kita.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments